Posts Tagged With: FB

Nostalgia Di Facebook

Gambar

Ternyata selain madhorot, banyak juga manfaatnya Facebook itu. Ya itu lah Facebook, salah satu social media atau biasa disebut jejaring sosial yang sangat populer akhir-akhir ini. Tak heran alasannya kenapa, karena sekarang adalah era globalisasi dunia, di mana tekhnologi dan internet menjadi daya pikat dan magnetnya penduduk bumi ini sekarang. Dan karena hampir setiap orang di muka bumi ini mempunyai akun Facebook. Dan tercatat oleh hasil salah satu lembaga survei social media yang bernama “social bakers” pada awal tahun ini, bahwa pengguna Facebook  terbanyak ke-empat di dunia adalah bangsa Indonesia, bangsa kita sendiri, dengan jumlah penggunanya mencapai 51.515.480 orang, jumlah ini hampir mencapai seperempat penduduk dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia yang berjumlah kurang lebih 200 juta jiwa. Kemudian Amerika Serikat di posisi pertama, dan setelahnya menyusul Brazil dan India di urutan ke-dua dan ke-tiga.

Selain bisa dijadikan media sosial dan interaksi antara manusia se-jagat, Facebook juga bisa dijadikan tempat empuk bagi orang-orang yang mau mempromosikan produk-produk dagangannya. Dari mulai para entrepreneur, sampai pedagang door to door ada di Facebook. Juga bisa dijadikan promosi fansclub, lembaga-lembaga pendidikan, kajian-kajian keagamaan, kajian ilmiah atau seminar-seminar kampus, sampai promosi undangan pernikahan juga ada di Facebook. Tak ketinggalan juga, Facebook bisa dijadikan sebagai sumber berita para penggunanya, dari mulai berita yang menjadi trendingtopic dunia, sampai berita yang sudah basi pun ada di Facebook.

Nah, selesai membahas Facebook, pada kesempatan ini, saya akan menuliskan cerita pendek mengenai “nostalgia di Facebook”. Ya nostalgia, yang sering diplesetkan katanya oleh sebagian orang menjadi “nostalgila”. Nostalgia merupakan suatu aktivitas atau kegiatan yang bisa mengingat kejadian-kejadian kita yang berkesan pada zaman dulu. Kita bisa melakukan nostalgia dengan berbagai cara, mulai dari reuni teman-teman sekolah misalkan, lihat-lihat diary dan album foto kita, atau kumpul bareng temem-temen dulu, dan salah satunya bisa lewat Facebook, seperti saya sekarang ini yang akan menuliskan cerita pendek mengenai “nostalgia di Facebook”. Mau tahu cerita selengkapnya, silahkan disimak ceritanya…!!!

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Pagi itu, sekitar jam 08:00 waktu Cairo, saya berniat membuka internet untuk sekedar melihat berbagai akun saya di internet, dari mulai WordPress, karena saya kebetulan sedang belajar nge-Blog dan belajar tulis-menulis di internet. Kemudian Google+, Twitter, dan yang pastinya Facebook yang hampir setiap hari saya buka. Kemudian saya melanjutkan dengan melihat-lihat berita yang lagi hangat di Indonesia, juga sekedar meng-update status dan melihat status-status teman-teman di Facebook. Sebelumnya saya tidak kepikiran untuk bernostalgia dengan masa lalu saya, akan tetapi berawal dari permintaan beberapa Facebookers untuk bergabung ke grup “Pesantren Persatuan Islam Tarogong”, yang kebetulan saya salah satu admin di grup itu, mengharuskan adanya pemberitahuan kepada saya jika ada permintaan untuk bergabung ke grup itu. Kemudian setelah itu saya langsung saja meng-approve request mereka supaya bisa gabung di grup itu. Grup “Pesantren Persatuan Islam Tarogong” ini merupakan grup Facebook pesantren saya dulu, yang menghimpun para santri maupun asatidz yang mempunyai akun Facebook.

Setelah beberapa saat kemudian, entah kenapa grup ini mengingatkan saya dengan masa lalu saya ketika “nyantri” di Pesantren Persatuan Islam Tarogong yang alamatnya terletak di Jl. Terusan Pembangunan No. 1, Kp. Rancabogo, Kel. Pataruman, Kec. Tarogong Kidul, Kab. Garut-Jawa Barat. Sangking lamanya saya sekolah di sana, sampai hapal saya alamatnya, hehe. Kemudian setelah itu saya melihat foto-foto bangunan pesantren ketika masih saya sekolah sampai sekarang. Setelah diperhatikan, banyak perubahan memang, karena semenjak saya sekolah di sana, pesantren yang dipimpin oleh al-Ustadz Moh. Iqbal Santoso ini, terus melakukan pembangunan dan perbaikan dari segi fasilitas-fasilitas yang menunjang untuk santrinya. Dan hasilnya, sekarang pesantren dan asramanya pun sudah luar biasa, fasilitas dan bangunannya sudah bisa disejajarkan dengan sekolah-sekolah unggulan bertaraf Nasional. Dari mulai lokal kelas yang memadai dan nyaman untuk kegiatan belajar mengajar, kantor para asatidz yang luas dan nyaman, lab. IPA, lab. Bahasa, lab. Komputer, warnet, kantin yang ditata sedemikian rapinya, halaman bai’at (upacara) yang luas, halaman parkir mobil dan motor juga luas, dan fasilitas-fasilitas yang ada di asrama tempat saya mondok dulu yang tak kalah bagusnya, yang membuat saya salut dengan Pesantren ini.

Setelah selesai melihat foto-foto pesantren, saya melihat foto-foto teman-teman saya yang tergabung di grup ini. Dan tentunya, hal ini mengingatkan saya pada masa-masa dulu dengan teman-teman saya, ketika saya masih menjadi santri. Dari mulai pertama masuk dari tingkat Tsanawiyyah dan keluar dari tingkat Mu’allimin yang setara dengan tingkat Aliyyah. Genap enam tahun saya sekolah di pesantren itu. Di sana mengingatkan saya pada masa-masa di mana saya harus berjuang dengan teman-teman saya dulu untuk mendapatkan ilmu dari para asatidz yang rela dan siap membagikan ilmunya kepada kami, juga yang mendidik kami tanpa pernah jemu dan bosan sedikit pun menghadapi kami. Masa-masa di mana saya dididik menjadi seorang anak yang berkarakter santri, tahu akan berbagai ilmu dasar keagamaan, yang membuat hidup saya berada dalam koridor agama Islam yang bisa menjadi pedoman saya untuk keselamatan dunia juga akhirat kelak. Di sana juga saya dididik menjadi seorang anak yang mandiri dan dewasa, jauh dari orangtua, saudara, rumah yang nyaman, dan harus tinggal di sebuah pondok asrama dengan berbagai peraturan yang ada. Dan hasilnya, seperti saya sekarang ini, menjadi jati diri saya sendiri, yang mempunyai cita-cita luhur yang ingin menjadi seorang ulama yang diridhoi Allah swt. barbakti bagi nusa dan bangsa, juga siap mengabdi di masyarakat kelak, yang ingin membina dan mencerdaskan masyarakat sehingga tidak buta lagi terhadap agama. Aamiin Yaa Rabb. Saya sangat bersyukur kepada Allah swt. telah disekolahkan oleh orangtua saya di pesantren ini.

Jika berbicara mengenai pesantren, saya jadi ingat waktu saya pertama masuk pondok pesantren ini. Umur saya waktu itu sekitar 12 tahun setelah saya lulus kelas enam SD. Waktu itu, saya diantar oleh keluarga saya, berangkat memakai mobil dari rumah sampai asrama tempat saya mondok dan nyantri dulu. Perasaan senang dan takut jadi satu ketika saya mulai masuk pesantren ini. Yang menyesakan hati saya, ketika saya harus ditinggal keluarga pulang, saya mulai merasa takut dan sedih ditinggal jauh orangtua saya, takut dengan kondisi saya yang amat baru, yang sangat terasa asing bagi saya. Maklum masih anak-anak pada waktu itu, masih malu-malu untuk berkenalan dengan teman-teman baru dari luar daerah, dan harus merasakan tinggal jauh dengan orangtua tercinta.

Puncaknya, siang itu ketika saya menunggu orangtua saya untuk menjemput saya pulang, karena kebetulan pada saat itu waktu liburan sekolah telah tiba, di mana para santri yang mondok di asrama biasanya dijemput oleh keluarganya untuk pulang ke rumah masing-masing, tapi ada juga kakak kelas yang pulang sendiri, yang sudah berani tanpa harus dijemput oleh orangtua mereka. Setelah lama saya menunggu, orangtua saya tak kunjung datang juga, saya pun gelisah pada waktu itu, karena tidak bisa pulang sendiri, karena saya belum berani untuk pulang sendiri dari pesantren ke rumah saya, meski jaraknya tidak cukup jauh, hanya sekitar 18 KM yang memerlukan waktu tempuh kurang lebih 45 menit dengan menggunakan angkutan umum. Tapi jiwa kekanak-kanakanku masih ada saja, saya masih takut untuk pulang sendiri karena masih belum terbiasa berpergian jauh sendiri. Pada malam sebelumnya, saya sudah beres-beres dan sudah packing barang-barang saya, tinggal siap-siap untuk berangkat pulang. Sedih perasaan saya pada waktu itu, di mana melihat teman-teman saya sudah dijemput oleh para orangtuanya, bahkan ada yang dari malam harinya mereka dijemput. “Hmm, beruntung mereka punya orangtua yang banyak waktu luang” gumamku dalam hati. Orangtuaku memang orang yang super sibuk, karena hampir setiap hari bapaku pergi ke Bandung untuk membeli barang-barang dan bahan-bahan kebutuhan percetakan bapa saya, dan ibu saya sibuk di toko melayani pembeli, dan tidak mungkin pergi sendiri untuk menjemput saya. Dan saya kebetulan tidak punya kakak, karena saya merupakan anak sulung dari kedua orangtua saya.

Setelah lama menanti dan tak kunjung datang juga, saya mulai berpikiran yang tidak-tidak pada waktu itu, sempat berpikir bahwa saya akan ditelantarkan oleh orangtua saya di pesantren ini, saya tidak akan dijemput lagi untuk pulang, akhirnya saya mulai menitikan air mata saya, jiwa cengengku yang masih kekanak-kanakan tiba-tiba muncul begitu saja, lalu saya pun menangis sesenggukan di salah satu ruangan di asrama itu, ditemani teman-teman satu ruangan yang mencoba menghibur saya, kebetulan mereka pun belum ada yang dijemput sama seperti saya, tapi salutnya mereka kuat tidak seperti saya yang masih cengeng seperti anak kecil. Akantetapi, setelah beberapa jam kemudian, akhirnya yang dinanti-nanti datang juga, ya bapaku akhirnya menjemput saya juga, saya jadi malu pada saat itu harus mengangis, langsung saja saya mengusap air mata saya supaya tidak terlihat orang di luar habis menangis. Dan bapa saya pun menyindir saya “huuh, gitu aja nangis, malu sama teman kamu yang dari luar jawa yang tidak dijemput oleh orang tuanya.” Saya pun tersipu malu mendengar sindiran bapa saya, dan akhirnya kami pun mengangkat barang-barang untuk di masukan ke mobil. Mungkin bapa saya telat menjemput saya, dikarenakan banyak pekerjaan yang harus dibereskan terlebih dahulu, melihat para pemesan sudah tidak sabar untuk mengambil barang pesanannya itu. Memang beliau sosok bapa yang saya banggakan yang selalu mendahulukan kepentingan orang lain yang memang menjadi haknya. Dan akhirnya saya pun bisa pulang juga dengan bapa saya menuju kampung halaman yang sudah lama saya rindukan suasananya itu.

Itulah salah satu kenangan saya selama nyantri di Pesantren Persatuan Islam Tarogong. Dan masih banyak lagi kenangan-kenangan yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, kalau saya sebutkan satu persatu dari awal saya masuk ke pesantren itu, sampai saya lulus dan tamat belajar dari sana, akan memerlukan waktu yang cukup lama dan mungkin bisa dijadikan sebuah nopel, mungkin. Hehe. Itulah skenario Allah pada masa lalu saya, yang hanya bisa diingat kembali sekarang ini, ketika saya sudah memasuki usia dewasa, dan hanya bisa tersenyum, tertawa sendiri, dan menitikkan air mata ketika harus mengingat masa-masa yang panjang itu yang tak akan mudah terlupakan begitu saja dalam sejarah hidup saya. Perasaan bahagia, sedih, bangga, terharu, menjadi satu ketika saya ingat masa-masa lalu saya di Pesantren itu. I love you all.

Setelah puas bernostalgia dengan pesantren saya dulu, kemudian saya berniat bernostalgia dengan diriku sendiri, saya ingin tahu masa-masa dulu saya seperti apa, sebelum saya menjadi seorang “Azhari” (sebutan bagi mahasiswa yang kuliah di univ. Al-Azhar Mesir). Ya tentunya mengingat masa lalu saya ketika kenal dengan Facebook, karena bagi saya Facebook bak buku harian yang selalu menemani saya ketika sedang merasakan suatu hal, baik itu senang maupun sedih, gembira maupun kecewa. Di sana banyak tercantum sejarah hidup saya dari mulai tulisan, curhatan, maupun foto-foto zaman dulu, walaupun tidak semuanya ada, tapi adalah sebagian yang mengingatkan saya pada masa lalu saya.

Kemudian saya langsung rollbacktimeline” atau “wall” Facebook saya menuju titik awal di mana saya pertama bergabung dengan Facebook. Timeline atau wall merupakan salah satu fitur di dalam Facebook yang memuat berbagai peristiwa yang dicantumkan oleh pengguna Facebook (Facebookers), dari mulai ia bergabung dengan Facebook sampai saat akun ia masih aktif di Facebook. Kemudian saya putar ke bawah, bak memutar lorong-lorong waktu kehidupan saya, tepatnya beberapa tahun kebelakang. Inilah uniknya Facebook, masih menyimpan kenangan-kenangan sejarah hidup saya, dari mulai saya kenal dengan yang namanya Facebook, sampai sekarang ini, dan entah sampai kapan akan terus menyimpan coretan-coretan sejarah kehidupan saya. Di sela-sela waktu saya melihat time line Facebook saya, saya mulai bergumam dalam benak saya “bagaimana dengan buku catatan amal saya yang ditulis oleh malaikat Rokib dan Atid, pasti tertulis detail dan rinci tentang amalan baik dan buruk saya, tidak ada yang telewatkan.” “Astaghfirullahal’azhiiiim” saya mengucap istighfar karena ingat dosa-dosa yang telah saya perbuat. Itulah kuasa Allah swt. Yang Maha Mengetahui dan Maha Teliti akan prilaku hamba-hamba-Nya, tidak akan ada kejadian sekecil apa pun yang tidak diketahui oleh Allah, dan amalan sekecil apa pun baik itu amalan shaleh atau buruk, tetap akan tercatat dalam buku catatan amal kita, yang akan kita pertanggung jawabkan diakhirat kelak.

Perlu diketahui oleh kita semua, bahwasannya tidak akan ada yang menandingi kekuasaan-Nya oleh siapa pun, hatta Facebook pun yang bisa merekam aktivitas manusia diseluruh dunia tidak ada apa-apanya bagi Allah, itu hanya sebagian contoh kecil alat rekaman kehidupan manusia, jauh sekali jika dibandingkan dengan catatan-catatan amal-amal kita selama hidup di dunia. Akantetapi saya tetap kagum dengan Facebook, meski tidak bisa menyaingi catatan milik Allah swt. tapi Facebook bisa digunakan sebagai alat untuk bermuhasabah diri dan berintrospeksi diri, karena jika melihat ke timeline yang dulu, kita akan ingat bagaimana kita dulu, dan apa saja yang kita telah lakukan dulu. Subhanallah, Maha suci Engkau Yaa Rabb.

Kemudian saya bergumam dalam hati, “ada-ada saja manfaat kau Facebook. Selain kamu jadi media sharing, kamu juga bisa jadi media nostalgia, hebat, bravo ‘alaik.” Dengan Facebook saya bisa melihat  status-status saya zaman dulu, foto-foto saya zaman dulu, zaman pertama Facebook mulai ada, di mana pada saat itu saya sedang menginjak fase remaja, atau masa-masa “abg” (anak baru gede), pada masa itu saya masih sangat labil, kalau anak muda zaman sekarang menyebutnya “ababil” atau abg labil, ya pokonya yang semacam itu lah. Dulu saya pernah merasakan pahit manisnya menjadi abg, pernah mengikuti mode-mode pakaian yang lagi menjadi trendsetter pada saat itu, dari mulai gaya rambut bergaya emo dan mohawk, celana pensil, kaos kecil dan ketat, dan model-model gaul lainnya yang pada saat itu sedang populer di kalangan anak remaja. Dan dulu pun saya pernah ketularan jadi so kaya anak alay gitu, yang nulis huruf-huruf aja sampe disingkat-singkat, dengan tulisan besar kecil digabung, dan menyertakan simbol atau semacamnya untuk menambah tulisan itu semakin gak bisa dibaca hehe, yang kurang lebih kaya begini tulisannya (H@i cMuaa, meudH p49i, udH pd@ maemz LuMPh, j9N LupH@ maemz y, nt4R c@kiit Lh00o), alay banget kan? Haha, Jadi geli rasanya kalau nginget-nginget masa-masa itu, hmm, ada-ada aja zamam saya abg dulu. Terus kadang-kadang saya suka ketawa-ketawa sendiri lihat kelakuan saya zaman dulu, ada-ada aja orang yang kaya saya haha, tapi alhamdulillah semenjak saya masuk jurusan ke-agamaan, sedikit-sedikit saya mulai berubah, dan banyak bergaul dengan orang-orang yang dewasa, pintar dan shaleh. Seiring bejalannya waktu dan bertambahnya usia saya, saya semakin memikirkan kehidupan saya ke depannya mau jadi apa. Saya ingin berubah menjadi diri saya sendiri, menjadi seorang anak laki-lai yang berbakti kepada orangtua saya yang selama ini telah rela mendidik saya, menafkahi saya, dan mengorbankan banyak waktunya untuk mengurusi kebutuhan saya sampai sekarang ini. Kemudian saya ingin menjadi seorang imam dan kepala rumah tangga yang baik bagi istri dan anak-anak saya kelak, dan ingin bersungguh-sungguh menjadi figur ulama sebagai panutan di masyarakat, yang mampu mencerdaskan masyarakat dan membimbing masyarakat ke arah yang diridhoi Allah swt.  Aamiin Yaa Rabbal’alamiin.

Kemudian setelah itu, dilanjutkan dengan melihat-lihat foto-foto ketika ngumpul bareng sama keluarga besar tercinta, berkumpul bersama penuh canda tawa, ketika bisa mencurahkan rasa kasih sayang di antara mereka, dengan ayah, ibu, adik, kaka sepupu, adik sepupu, om, tante, kakek, nenek, dan lain sebagainya. Memang keluarga besar orangtua dari ayah saya, selalu menyempatkan untuk berkumpul dengan saudar-saudara lainnya, mengadakan pengajian keluarga, makan bersama keluarga, ziarah ke makam orangtua kami, sampai berlibur pun kadang kami selalu bersama. Hal itu semua bertujuan untuk mempererat tali hubungan kekeluargaan di antara kami. Dari sana saya mulai tahu arti sebuah keluarga yang hubungannya terjalin kuat, dan sangat berarti besar di dalam kehidupan saya. Thanks for my big family.

Setelah selesai melihat foto-foto keluarga, saya tak sengaja melihat foto salah satu teman saya di kumpulan foto-foto Facebook saya. Rasa haru dan sedih pun muncul ketika saya ditaqdirkan lagi untuk ngobrol lewat aplikasi chat di Facebook dengan sorang teman dekat saya yang sudah lama tak berjumpa dengannya, kurang lebih hampir 5 tahun saya tak bertemu dengan dia. Cerita pertemuan saya dengannya berawal dari kepindahan saya ketika kelas 3 SD dari sekolah yang biasa-biasa saja ke salah satu sekolah yang favorit di Kecamatan saya, dikarenakan pada waktu itu orangtua saya kurang puas dengan pendidikan dan pelayanan SD saya yang dulu. Nah, di SD yang baru ini, saya mulai bertemu dengan teman dekat saya ini, dia bisa dibilang salah satu teman baik saya ketika saya kecil. Mungkin karena dilatarbelakangi ayah kami yang bersahabat pada masa mudanya, akhirnya kami pun ditaqdirkan oleh Allah untuk bersahabat sebagaimana orangtua kami dulu.

Dulu kami sangat dekat sekali, dari mulai satu sekolahan, belajar bareng, ngaji bareng, main tiap hari bareng, berpetualang bareng-bareng, hampir ke mana-mana bareng. Akan tetapi, hal itu semua berubah, setelah kami berbeda sekolah, taqdir berkata lain, akhirnya kami berpisah pada waktu itu. Awalnya kami masih satu sekolah di SD dan Tsanawiyyah yang sama, akan tetapi setelah lulus Tsanawiyyah, dia harus melanjutkan ke salah satu SMA favorit di Garut. Mungkin demi mengejar cita-citanya yang ingin menjadi dokter awalnya, sehingga dia harus fokus belajar di sekolah yang berbasis umum. Sedangkan saya, masih tetap setia dengan pesantrenku ini, karena saya menilai bahwa pesantren adalah sekolah yang sempurna bagi saya, disana diajarkan banyak ilmu-ilmu baru yang tidak bisa saya dapatkan di sekolah-sekolah umum. Pesantren ini mempunyai tujuan untuk mendidik dan mencetak para santrinya agar berkarakter ulama yang berintelektual tinggi, ber-akhluqul karimah (berakhlak mulia) dan ber-tafaqquh fiddin (faham terhadap agamanya), serta melek teknologi sehingga tidak ketinggalan dengan arus globalisasi seperti sekarang ini.

Ya, setelah kami berbeda sekolah, akhirnya kami pun jadi jarang bertemu. Terakhir kami bertemu mungkin pas reunian Tsanawiyyah, itu pun sudah sangat lama sekitar 5 tahun yang lalu. Alasannya mungkin dia sudah punya teman yang baru dan asik dengan berbagai aktivitas di SMAnya, dan mungkin juga saya yang terlalu sibuk dan asik dengan teman-teman di pesantren saya. Sehingga sedikit demi sedikit saya pun terlupa dengan dia.

Waktu pun berlalu dengan cepatnya, singkat cerita saya pun sudah kuliah tahun pertama di negeri orang, tepatnya di Mesir, salah satu negara yang terletak di benua Afrika bagian utara yang berbatasan dengan negara-negara di benua Asia, seperti Saudi Arabia, Palestina, Yaman, dan negara-negara arab lainnya. Ya tepatnya lagi saya kuliah di salah satu universitas Islam tertua dan terkenal di dunia, yaitu universitas al-Azhar. Sedangkan dia sedang melaksanakan kuliah semester 6 mengambil jurusan bahasa dan sastra Jepang, di salah satu universitas terkenal di Indonesia, yaitu Universitas Padjadjaran. Entah karena alasan apa dia memilih jurusan sastra Jepang itu, karena yang saya tahu awalnya dia bercita-cita untuk kuliah di fakultas kedokteran. Mungkin karena satu dan lain hal, dia harus kuliah di jurusan itu.

Memang berbeda dengan saya, dia sudah hampir lulus kuliah, dan sebentar lagi mau menyusun skripsinya, sedangkan saya masih dibilang “MaBa” atau mahasiswa baru di al-Azhar. Ya bisa dibilang ketinggalan dua tahun dari teman-teman saya yang satu angkatan. Hal itu dikarenakan, sebelum kuliah di al-Azhar, saya pernah mengenyam bangku kuliah di salah satu kampus bahasa Arab di Bandung (Ma’had al-Imarat), untuk memantapkan lagi kemampuan saya dalam berbahasa Arab sebelum kuliah di al-Azhar. Kuliah di al-Azhar memang sudah menjadi keinginan saya semenjak dulu, karena melihat kakak-kakak sepupu saya sudah tiga orang kuliah di al-Azhar, dan saya pun termotivasi dan berniat untuk kuliah di sana. Dan akhirnya keinginan itu terkabul. Dan sekarang saya pun resmi menjadi salah satu mahasiswa di universitas al-Azhar Cairo Mesir, setelah berbagai proses saya tempuh, dan setelah mengikuti tes untuk bersaing dengan hampir 2.500 peserta yang ingin mendaftar ke universitas ini untuk memperebutkan jatah kursi mahasiswa yang hanya disediakan beberapa ratus saja, yaitu sekitar 400 kursi orang calon mahasiswa yang akan diterima untuk kuliah di universitas ini. Dan alhamdulillah saya ada dibagian orang-orang terpilih itu. Thanks to Allah.

Saya pun merasa untuk tidak perlu berkecil hati dengan pengulangan saya di kuliah yang terpaut dua tahun jaraknya dengan teman-teman saya yang sudah hampir lulus kuliahnya. Karena bagi saya menimba ilmu itu tidak terpaku terhadap waktu maupun umur, di mana ada kesempatan, di sana lah kita harus tetap menimba ilmu sebagai kewajiban kita sebagai seorang muslim terhadap Allah swt.

Chatingku dimulai dengan temanku ini, ya perasaan haru karena sudah lama tak sempat bertemu dan ngobrol lagi seperti dulu, dan perasaan sedih karena saya merasa bersalah telah menyia-nyiakan arti sebuah persahabatan yang sudah kami jalin begitu lamanya dengan temanku ini. Saya meresa bersalah ketika saya tidak sempat untuk pamitan dengannya, untuk sekedar menyempatkan bertemu terlebih dahulu dengan teman saya sebelum keberangkatan saya ke Mesir. Saya berangkat begitu saja tanpa permisi kepadanya, seakan-akan tak ada hubungan persahabatan dengannya. Saya meresa sedih dan bersalah kepadanya waktu itu. Saya pun meminta maaf kepadanya atas kekhilafan saya ini, dan akhirnya dia pun memaafkan saya, yang membuat saya kembali senang, seperti terbebas dari perasaan bersalah, terasa plong dada saya pada waktu itu. Dan akhirnya kami pun melanjutkan percakapan kami seperti biasanya dengan suasana hangat kembali, menanyakan kabar pribadi, keluarga, kuliah dan lain sebagainya, seakan-akan kami sedang melepas rindu yang terpendam dalam jiwa kami setelah bertahun-tahun tak bertemu, kami pun sama-sama menitikan air mata ketika mengingat masa-masa kanak-kanak kami, ketika mengingat kebahagiaan kami dan kecerian kami pada waktu itu, waktu di mana kami tak akan pernah mengulanginya kembali. Kemudaian saya bergumam dalam hati “ini akan memperpanjang rekor waktu saya tidak bertemu dengannya, di mana saya tidak bisa melihat dia lagi, tidak bisa bertatap muka lagi sepeti dulu sejak kami masih kecil. Mungkin kami tidak akan bertemu entah sampai kapan, karena dia berencana untuk melanjutkan studinya ke negeri sakura Jepang,  mungkin sampai Allah swt. menaqdirkan kami untuk bertemu kembali kelak.” Hikz hikz saya pun meneteskan air mata ketika membayangkan hal itu.

Melihat rumitnya hubungan persahabatan kami, saya teringat dengan salah satu lagu nasyid yang berjudul “Cinta Berkawan” yang dibawakan oleh salah satu grup nasyid terkenal di Indonesia, yaitu Edcoustic, kurang lebih lirik lagunya seperti ini :

“Seutas tali memadu simpul tawamu duhai kawan
Simpulnya jatuh di pelupuk nurani yang tertambat cinta
Cinta berkawan bersama nikmati semusim masa

Di sela kehangatan berkawan adalah aku pandang
Satu persatu garis wajah duhai kawan penuh harapan
Andai saja terus bersama setiap masa sehati

Reff :
Suratan Tuhan kita di sini menapaki cerita bersama
Cinta berkawan karena sehati dalam kasih Illahi
Tepiskan hal yang berbeda.. agar kisahmu teramat panjang
Simpan rapi harapan berkawan selamanya..”

Dan kami pun mengakhiri obrolan kami dengan saling berjanji untuk tetap mengikat tali persahabatan di antara kami, minimalnya dengan melakukan obrolan atau sekedar sapa menyapa di internet. Kemudian kami pun saling mendo’akan agar kami sama-sama mendapat ke-ridhoan Allah swt. dalam menempuh studi kami, dan agar kami sama-sama meraih sukses dunia dan akhirat. Dan bisa dipertemukan kembali suatu saat nanti atas izin Allah swt. Aamiin Yaa Rabbal’alamiin.

The end.

Categories: Cerpen | Tag: , , , , , , | 4 Komentar

Blog di WordPress.com.