Posts Tagged With: Dakwah

Berdakwah di Tengah Fitnah Keji [Terrorist]

terrorism1
Untuk mengintai kafir Quraisy, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengirim dua belas orang Muhajirin di bawah pimpinan Abdullah bin Jahsy. Agar rahasia misi itu terjaga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyerahkan surat tugas kepada mereka dan baru boleh dibuka setelah melakukan dua hari perjalanan.
Setelah melakukan perjalanan selama dua hari, Abdullah bin Jahsy segera membuka surat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan membacanya.
“Jika engkau sudah membaca surat ini, berjalanlah hingga tiba di Nikhlah, yaitu antara Makkah dan Thaif. Intailah (cegatlah) kabilah Quraisy dan laporkan kepada kami keadaan mereka.”
Begitu membaca surat tersebut, Abdullah dan pasukannya segera berangkat menuju Thaif. Di tengah perjalanan, unta yang dikendarai Sa’ad bin Abi Waqqash dan Utbah bin Ghazwan terlepas dan lari. Keduanya segera pergi memisahkan diri dan mencari unta mereka.
Sementara itu, Abdullah bin Jahsy dan pasukannya melanjutkan perjalanan hingga tiba di Nikhlah. Saat itulah kafilah Quraisy melintas. Pasukan kaum Muslimin bingung. Mereka mengira saat itu hari terakhir bulan Jumadil Akhir. Padahal, sudah masuk hari pertama bulan Rajab yang diharamkan berperang. Namun jika dibiarkan, kafilah Quraisy itu akan lewat dan memasuki Makkah.
Akhirnya, mereka sepakat untuk mencegat kafilah tersebut. Terjadi bentrokan. Amr al-Hadrami, salah seorang dari kafilah Quraisy, terbunuh. Dua orang temannya, Utsman dan Hakam berhasil dibawa ke Madinah sebagai tawanan.
Begitu mengetahui apa yang terjadi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terkejut. “Aku tidak memerintahkan kalian untuk berperang di bulan ini. Mengapa kalian membunuh?” tanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kaum Muslimin di Madinah pun menyesalkan tindakan Abdullah bin Jahsy dan kawan-kawannya. Abdullah bin Jahys pun merasa terpukul karena telah melakukan pelanggaran.
Di tengah-tengah keadaan itulah, kafir Quraisy melakukan tuduhan keji.
“Muhammad dan kawan-kawannya telah melakukan pelanggaran. Mereka menumpahkan darah dan merampas harta di bulan suci,” ujar mereka.
Orang-orang Yahudi pun tak mau kalah menyulut provokasi atas insiden itu dengan mengatakan, “Amr al-Hadrami dibunuh oleh Waqid bin Abdullah. Amr berarti memakmurkan peperangan. Hadrami berarti menghadirkan peperangan. Sedangkan Waqid bin Abdullah berarti menyulut peperangan.”
Berbagai istilah dan ungkapan dilontarkan oleh orang-orang Yahudi dan kafir Quraisy untuk menjatuhkan nama baik kaum Muslimin. Mereka menuduh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya sebagai teroris, pelanggar Hak Asasi Manusia (HAM), dan menodai kesepakatan internasional.
Kaum Muslimin dituduh menginjak-injak kehormatan bangsa Arab dan kehormatan mereka. Seolah-olah orang Yahudi dan kafir Quraisylah yang merupakan bangsa terhormat dan paling menghargai HAM.
Di tengah kegalauan itulah Allah menurunkan firman-Nya, “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang di bulan haram. Katakanlah, ‘Berperang pada bulan itu adalah dosa besar.’ Tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, menghalangi (masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar dosanya dari di sisi Allah. Dan fitnah itu lebih besar dosanya daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agama kamu (kepada kekafiran) seandainya mereka sanggup…” (QS al-Baqarah: 217).
Allah memberikan perspektif yang sebenarnya tentang insiden Nikhlah tersebut. Perspektif yang sangat komprehensif sebagai kejadian yang tidak berdiri sendiri. Allah tidak hanya menerima kealpaan Abdullah bin Jahsy, tapi membedah permasalahan lebih dalam.
Dalam konteks masa kini, hujan fitnah seperti dilakukan kafir Quraisy dan Yahudi lebih beragam. Istilah terorisme versi mereka dijadikan alat untuk menuduh kaum Muslimin di balik berbagai peristiwa. Kaum Muslimin dituduh teroris, pelanggar HAM dan anti demokrasi.
Kejadian ini persis seperti yang dialami kaum Muslimin pasca tragedi Nikhlah. Musuh-musuh Islam mencap kaum Muslimin sebagai penjahat yang telah melakukan pelanggaran. Padahal, seperti yang difirmankan Allah dalam QS al-Baqarah: 217 tersebut, tindakan kafir Quraisy jauh lebih besar dosanya. Kalau dalam kealpaannya, pasukan Abdullah bin Jahsy hanya membunuh satu orang kafir Quraisy dalam sebuah peperangan, maka sebelumnya kafir Quraisy telah membunuh puluhan kaum Muslimin dan mengusir mereka dari tanah kelahirannya. Hal ini tentu dosanya jauh lebih besar.
Inilah yang terjadi saat ini. Amerika dan sekutunya telah melancarkan beragam tuduhan—yang tidak semuanya benar—atas kaum Muslimin. Namun, kekejaman yang mereka lakukan—seperti pembantaian kaum Muslimin di Palestina oleh Israel—jauh lebih keji. Di Indonesia pun serupa. Para peledak bom diusut, tapi para koruptor dibiarkan berkeliaran. Seorang Abu Bakar Baasyir yang dianggap melanggar aturan keimigrasian, ditahan. Sedangkan mereka yang jelas terbukti melakukan korupsi dibiarkan bebas, malah memimpin sebuah institusi di negeri ini. Para mantan mujahidin Afghan, Poso dan Ambon ditangkap, sedangkan mantan antek-antek penjahat negara Orde Baru dibiarkan.
Dalam situasi inilah kita hidup. Dalam suasana inilah dakwah harus berjalan. Kaum Muslimin, khususnya juru dakwah harus ekstra hati-hati. Suasana yang kita alami sekarang bukan baru pertama kali. Sebelumnya, hampir semua utusan Allah mengalami tuduhan, hujatan dan makian. Mereka dikatakan gila, provokator, tukang sihir dan berbagai cap negatif lainnya.
Menghadapi situasi ini, paling tidak ada tiga hal yang bisa dilakukan.
Pertamahadapi dengan kesadaran bahwa Allah pasti menolong hamba-Nya. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-rasul sebelum kamu, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka sampai datang pertolongan Kami kepada mereka,” (QS al-An’am: 34).
Kedua, hadapi fitnah dengan istiqamah (QS asy-Syuura: 15), berjihad dan tetap berada di jalan Allah. Dalam hujan fitnah ini, selain tuduhan dan tekanan, juru dakwah akan menghadapi godaan yang kadang menggiurkan.
Ketiga, fitnah harus dilawan dengan doa. Inilah kekuatan yang tak mungkin dikalahkan oleh sekuat apa pun musuh. Selain itu, sikap tenang dan penuh kehati-hatian akan melahirkan tindakan bijak dan arif. Inilah yang akan membuat kita bertahan dalam dakwah di tengah lebatnya hujan fitnah.
[Hepi Andi Bastoni/Hasanalbana.com]
Iklan
Categories: Dakwah Islam | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Pembentukan Karakter Terhadap Para Nabi dan Rasul

Subhanallah, sangat indah dan terskema dengan baik sekenario Allah Swt. terhadap pentarbiyyahan dan pembentukan kepribadian para Nabi dan Rasul-Nya. Allah sengaja menyiapkan mereka dari sejak dini hinnga beranjak dewasa sebelum diangkat menjadi Rasul dengan berbagai bentuk pentarbiyyahan yang akan membentuk kepribadian mereka menjadi berkarakter dan siap untuk terjun langsung kepada umat dengan risalah yang sangat mulia.

                     

Salah satu contohnya Nabi Musa As. Setelah beliau keluar dari negeri Mesir, beliau dibimbing oleh Allah menuju sebuah negeri yang bernama “Madyan”. Di negeri tersebut beliau dipertemukan dengan seorang Nabi yang sudah berusia lanjut yang menjadi pemimpin negeri tersebut. Dan akhirnya beliau ditaqdirkan oleh Allah Swt. untuk menjadi pekerja kepada Nabi Syu’aib As. sebagai pengembala kambing.

 

Dari sini Allah Swt. memulai pentarbiyyahan dan pembentukan karakter seorang Nabi kepada Nabi Musa As. dengan mengembala kambing-kambing Nabi Syu’aib As. Karena dari pekerjaan ini dapat menghasilkan beberapa karakter dan sifat yang dimiliki oleh seorang Nabi dan Rasul-Nya. Diantaranya adalah :

 

1. SABAR. Karena seorang pengembala dituntut untuk sabar menghadapi gembalaannya dari mulai ia mengembala pagi hari, kemudian menahan panas terik matahari pada siang harinya, sampai selesai pada sore hari dengan rasa lelah. Begitu pun dengan menjadi pemimpin umat yang akan memimpin manusia dan membimbingnya dengan penuh kesabaran.

2. TAWADHU. Karena seorang pengembala pada dasarnya adalah seorang pelayan terhadap para hewan gembalaannya. Dari mulai mengurusi makanannya, memandikannya, sampai tidur di dekatnya. Dan seorang pengembala tidak segan-segan untuk berbaur dengan kotoran dan bau yang melekat pada hewan ternak tersebut. Dan bahkan suatu saat ia akan terkena percikan kotoran atau air seninya. Dari sini tampak pengorbanan seorang Nabi dan Rasul kepada umatnya, dan akan hilang rasa kesombongan dan keangkuhan pada dirinya, dan akan senantiasa bersikap tawadhu (merendahkan hati) kepada setiap orang.

3. PEMBERANI. Karena seorang pengembala dituntut untuk selalu siap dan siaga terhadap bahaya yang akan menimpa hewan gembalaannya. Ketika bahaya hewan buas misalnya, yang datang dengan tiba-tiba kearah gerombolan hewan ternaknya, ia harus siap untuk mengusir dan menghalau bahaya hewan buas tersebut, tentunya hal ini perlu kesiapan mental dan keberanian yang sangat untuk menghadapi hewan buas yang akan memangsa hewan ternaknya. Begitu pun menjadi pemimpin umat, ia harus siap sedia melindungi umatnya dari ancaman dan bahaya yang datang dari musuh-musuhnya, dengan cara apa pun itu, yang terpenting ada mental kebaranian dan jiwa kesatria yang dimiliki oleh seorang Nabi dan Rasul, dalam menghadapi bahaya dalam berbagai situasi dan kondisi.

4. PENYAYANG. Karena seorang pengembala dituntut untuk selalu siap siaga dengan rasa kasih sayangnya terhadap hewan ternak yang ditimpa masalah, misalnya sakit dan melahirkan. Ketika hewan gembalaannya ada yang sakit, ia harus siap mengobati rasa sakit hewan tersebut, tentunya dengan penuh perhatian dan rasa kasih sayang dan jeli dalam mengatasi rasa sakit hewan tersebut. Supaya hewan tersebut dapat kembali sehat dan kembali hidup seperti biasanya. Begitu pun para pemimpin umat, ia harus memiliki rasa kasih sayang dan kepekaan terhadap permasalah yang ditimpa umatnya. Tidak dihadapi dengan sifat arogansi dan kasar. Apabila dapat melakukannya terhadap hewan ternak, begitu pun terhadap manusia, ia mampu lebih dalam memberikan rasa kasih sayangnya terhadap sesama manusia.

 

Dengan demikian, penulis bermaksud untuk mengajak kepada kita semua untuk tetap terus mendalami ayat-ayat Allah, dan tanda-tanda kebesaran-Nya yang nampak di sekitar kita dan yang Nampak di alam semesta ini. Begitu pun dalam permasalahan mencetak para pemimpin dan para penerus dakwah para Nabi dan Rasul-Nya, kita bisa mengambil pelajaran dari tulisan singkat yang telah penulis sampaikan sebelumnya. Bahwasannya Allah Swt. adalah sebaik-baik pentarbiyyah dan pendidik, terutama dalam mempersiapkan para utusan-Nya, yang akan mengemban amanat yang sangat berat namun mulia, yaitu menegakan “kalimatullah” di muka bumi ini. 

Categories: Pendidikan / Tarbiyyah | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.