Politik

Agama ; Antara Tujuan Politik dan Alat Politik

Bismillahirrahmaanirrahiim

Saya tulis artikel ini untuk menyikapi banyaknya tuduhan terhadap partai politik yang benar-benar murni berasaskan Islam yang dituduh menjual agama demi kepentingan politiknya.

Di sini kita mestinya dapat membedakan mana partai politik yang menggunakan politik sebagai alat untuk memperjuangkan agama di ranah pemerintahan, dan mana partai politik yang jelas-jelas mereka tidak berasaskan agama (bahkan anti terhadap agama) tetapi mereka menggunakan agama sebagai alat politik guna untuk memikat dan menarik banyak masa yang mayoritas beragama.

Kita harus perhatikan terlebih dahulu, jikalau parpol yang berasaskan Islam/agama menggunakan jargon dan simbol agama, maka itu adalah suatu hal yang wajar, karena mereka bertujuan untuk membumikan dan menyebarkan dakwah agama Islam sebagai agama universal rahmatan lil’alamin, yang mengurusi semua aspek kehidupan dari mulai masalah yang terkecil sampai masalah pemerintahan sekalipun.

Akantetapi bagaimana dengan parpol nasionalis dan sekuler yang menggunakan simbol dan jargon agama untuk kampanye mereka?? Bukankah ini namanya pencitraan, penjiplakan, pemalsuan,??

Dalam hal ini saya memberikan beberapa catatan ‘kemunafikan’ partai-partai nasionalis dan sekuler yang sudah menjual agama untuk kepentingan politiknya, antara lain:

1. Menunggangi AGAMA untuk tujuan politiknya, artinya agama cuma tunggangan, simbol agama cuma TOPENG, padahal biasanya anti terhadap nilai agama. Berbeda dengan partai politik yang berasaskan agama, yang menggunakan politik sebagai alat untuk berdakwah demi diterapkannya sistem yang Islami di ranah pemerintahan, bukan untuk jualan.

2. Ada partai sekuler yang anti Islam, anti UU zakat, anti UU pornografi, Anti UU Jaminan Produk Halal, kadernya suka jadi backing tempat mabuk, maksiat dan judi. Akantetapi menjelang pemilu tiba-tiba jadi Islami.

3. Tiba-tiba Cagub partai sekuler pake KERUDUNG, pake KOPIAH, padahal sebelumnya anti terhadap simbol-simbol Islam.

4. Tiba-tiba para tokoh partainya mendadak ISLAMI, pergi HAJI, Umroh, menyumbang masjid, padahal biasanya anti masjid, tiba – tiba pakai simbol Islam untuk membohongi kaum muslimin demi menarik hati kaum muslimin.

5. Tanpa rasa malu, SUDAH KALAH di pilkada gubernur KERUDUNGNYA dicopot, KOPIAH dibuang, balik lagi anti Islam. Ini namanya politisasi agama, ini namanya menjual agama.

6. ADA capres dari partai sekuler ini tiba-tiba fasih ceramah dan jadi selingan acara TV mendiskreditkan partai Islam. Ada juga wapres lain yang mendadak berpenampilan Islami sambil mengucapkan selamat Idul Fitri, itu hanya pencitraan saja, padahal dia tidak suka dengan Islam.

7. Ada juga  yang pandai mengucapkan Assalamu alaikum, Alhamdulillah, masyaAllah, Innalillah, dsb, padahal bukan beragama Islam. Saya kira ini penistaan..?

8. Untuk mendekati hati umat Islam, banyak partai-partai Nasionalis dan Sekuleris berlomba-lomba mendirikan lembaga-lembaga Islam, contoh konkretnya seperti :   PDIP membentuk Baitul Muslimin Indonesia, Demokrat membentuk Majelis Dzikir SBY. GERINDRA membentuk GEMIRA – Gerakan Muslim Indonesia Raya, LAZIRA (Lembaga Amil Zakat Indonesia Raya), MAZIA (Majelis Zikir Indonesia Raya), Golkar juga sejak lama membentuk Majelis Dakwah Islamiah (MDI) & Satkar Ulama. Apa tujuan mereka dengan mendirikan berbagai lembaga-lembaga Islam seperti itu, padahal partai mereka tidak berlandaskan Islam sedikitpun, bahkan mereka sampai anti terhadap hukum-hukum yang berbau Islam, mereka hanya menjadikan Islam sebagai alat untuk berjualan demi mendapatkan hati masyarakat Indonesia yang moyoritas muslim.

Nah, yang  jadi masalah adalah kenapa Parpol yang berasaskan Islam selalu dicap atau dituduh menjual agama demi kepentingan politik, padahal mereka selalu berpenampilan Islami setiap harinya, Islam sudah menjadi darah dagingnya, sudah menjadi pedoman hidupnya. Mereka senantiasa berpenampilan Islami, pakai baju koko, pakai Jilbab, setiap hari sholat, senantiasa takbir, naik haji adalah kewajiban mereka. Yang mereka lakukan hanya Islamisasi politik (misalnya mengusulkan pembuatan UU zakat, UU pornografi, dan UU Jaminan Produk Halal) dengan merujuk pada ideologi mereka, Islam rahmatan lil alamin. Padahal sudah jelas yang menjual agama untuk kepentingan politik adalah mereka yang anti terhadap Islam, Islam hanya dijadikan topeng belaka untuk menutupi kebejadan mereka. Wallahu a’lam bishowaab.

Kini sudah tahu kan siapa yang menjual agama untuk kepentingan politik dan siapa menggunakan politik untuk agama??

Kini sudah tahukan siapa ‘penjual’ agama sesungguhnya??Gambar

Categories: Politik | Tag: , , , , , , , | 2 Komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.