Author Archives: ikhwanelhaq

About ikhwanelhaq

Bismillaahirrahmaanirrahiim Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh Saya adalah anak laki-laki yang terlahir dari rahim ibu saya. saya bersyukur bisa dilahirkan ke dunia ini dengan selamat. Kebetulan saya anak pertama dari keluarga ayah dan ibu saya, ayah saya bernama Deni, yang kebetulan berprofesi sebagai wiraswasta atau bahasa kerennya entrepreneurship, dan ibu saya bernama Siti Juhaerah seorang ibu yang saya banggakan, yang selalu memperhatikan saya sampai sekarang ini. keduanya berasal dari suku sunda. Kebetulan saya pun lahir dan besar di daerah Limbangan, Kab. Garut, Prov. Jawa Barat, Indonesia. Saya baru mempunyai dua orang adik, yang kedua-duanya seorang laki-laki, yang pertama bernama Muhammad Rijal ul-Haq, dan yang kedua bernama Muhammad Rai ul-Haq. Dari dulu sampai sekarang, alhamdulillah saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk terus menimba ilmu, dan alhamdulillah sekarang saya diizinkan oleh Allah Swt. untuk sekolah dan menimba ilmu di salah satu universitas terkenal di dunia Islam, yaitu univ. al-Azhar Cairo Mesir. Insya Allah setelah lulus dari al-Azhar, saya akan melanjutkan misi utama saya, yaitu belajar dan mengajarkan ilmu kepada umat, itulah salah satu profesi yang mulia di sisi Allah Swt. yang tentunya saya akan lebih fokus berdakwah mengamalkan dan menyebarluaskan ilmu yang saya dapat di al-Azhar ini. Mudah-mudahan blog ini bisa menjadi ladang dakwah saya melalui tulisan, karena dakwah tidak terpaku harus dengan lisan, akan tetapi tulisan dan hal (akhlaq) itu perlu, untuk menambah gebrakan metode dakwah di jalan Allah ini. Alhamdulillaahirabbil'aalamiin Wassalaam

Berdakwah di Tengah Fitnah Keji [Terrorist]

terrorism1
Untuk mengintai kafir Quraisy, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengirim dua belas orang Muhajirin di bawah pimpinan Abdullah bin Jahsy. Agar rahasia misi itu terjaga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyerahkan surat tugas kepada mereka dan baru boleh dibuka setelah melakukan dua hari perjalanan.
Setelah melakukan perjalanan selama dua hari, Abdullah bin Jahsy segera membuka surat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan membacanya.
“Jika engkau sudah membaca surat ini, berjalanlah hingga tiba di Nikhlah, yaitu antara Makkah dan Thaif. Intailah (cegatlah) kabilah Quraisy dan laporkan kepada kami keadaan mereka.”
Begitu membaca surat tersebut, Abdullah dan pasukannya segera berangkat menuju Thaif. Di tengah perjalanan, unta yang dikendarai Sa’ad bin Abi Waqqash dan Utbah bin Ghazwan terlepas dan lari. Keduanya segera pergi memisahkan diri dan mencari unta mereka.
Sementara itu, Abdullah bin Jahsy dan pasukannya melanjutkan perjalanan hingga tiba di Nikhlah. Saat itulah kafilah Quraisy melintas. Pasukan kaum Muslimin bingung. Mereka mengira saat itu hari terakhir bulan Jumadil Akhir. Padahal, sudah masuk hari pertama bulan Rajab yang diharamkan berperang. Namun jika dibiarkan, kafilah Quraisy itu akan lewat dan memasuki Makkah.
Akhirnya, mereka sepakat untuk mencegat kafilah tersebut. Terjadi bentrokan. Amr al-Hadrami, salah seorang dari kafilah Quraisy, terbunuh. Dua orang temannya, Utsman dan Hakam berhasil dibawa ke Madinah sebagai tawanan.
Begitu mengetahui apa yang terjadi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terkejut. “Aku tidak memerintahkan kalian untuk berperang di bulan ini. Mengapa kalian membunuh?” tanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kaum Muslimin di Madinah pun menyesalkan tindakan Abdullah bin Jahsy dan kawan-kawannya. Abdullah bin Jahys pun merasa terpukul karena telah melakukan pelanggaran.
Di tengah-tengah keadaan itulah, kafir Quraisy melakukan tuduhan keji.
“Muhammad dan kawan-kawannya telah melakukan pelanggaran. Mereka menumpahkan darah dan merampas harta di bulan suci,” ujar mereka.
Orang-orang Yahudi pun tak mau kalah menyulut provokasi atas insiden itu dengan mengatakan, “Amr al-Hadrami dibunuh oleh Waqid bin Abdullah. Amr berarti memakmurkan peperangan. Hadrami berarti menghadirkan peperangan. Sedangkan Waqid bin Abdullah berarti menyulut peperangan.”
Berbagai istilah dan ungkapan dilontarkan oleh orang-orang Yahudi dan kafir Quraisy untuk menjatuhkan nama baik kaum Muslimin. Mereka menuduh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya sebagai teroris, pelanggar Hak Asasi Manusia (HAM), dan menodai kesepakatan internasional.
Kaum Muslimin dituduh menginjak-injak kehormatan bangsa Arab dan kehormatan mereka. Seolah-olah orang Yahudi dan kafir Quraisylah yang merupakan bangsa terhormat dan paling menghargai HAM.
Di tengah kegalauan itulah Allah menurunkan firman-Nya, “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang di bulan haram. Katakanlah, ‘Berperang pada bulan itu adalah dosa besar.’ Tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, menghalangi (masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar dosanya dari di sisi Allah. Dan fitnah itu lebih besar dosanya daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agama kamu (kepada kekafiran) seandainya mereka sanggup…” (QS al-Baqarah: 217).
Allah memberikan perspektif yang sebenarnya tentang insiden Nikhlah tersebut. Perspektif yang sangat komprehensif sebagai kejadian yang tidak berdiri sendiri. Allah tidak hanya menerima kealpaan Abdullah bin Jahsy, tapi membedah permasalahan lebih dalam.
Dalam konteks masa kini, hujan fitnah seperti dilakukan kafir Quraisy dan Yahudi lebih beragam. Istilah terorisme versi mereka dijadikan alat untuk menuduh kaum Muslimin di balik berbagai peristiwa. Kaum Muslimin dituduh teroris, pelanggar HAM dan anti demokrasi.
Kejadian ini persis seperti yang dialami kaum Muslimin pasca tragedi Nikhlah. Musuh-musuh Islam mencap kaum Muslimin sebagai penjahat yang telah melakukan pelanggaran. Padahal, seperti yang difirmankan Allah dalam QS al-Baqarah: 217 tersebut, tindakan kafir Quraisy jauh lebih besar dosanya. Kalau dalam kealpaannya, pasukan Abdullah bin Jahsy hanya membunuh satu orang kafir Quraisy dalam sebuah peperangan, maka sebelumnya kafir Quraisy telah membunuh puluhan kaum Muslimin dan mengusir mereka dari tanah kelahirannya. Hal ini tentu dosanya jauh lebih besar.
Inilah yang terjadi saat ini. Amerika dan sekutunya telah melancarkan beragam tuduhan—yang tidak semuanya benar—atas kaum Muslimin. Namun, kekejaman yang mereka lakukan—seperti pembantaian kaum Muslimin di Palestina oleh Israel—jauh lebih keji. Di Indonesia pun serupa. Para peledak bom diusut, tapi para koruptor dibiarkan berkeliaran. Seorang Abu Bakar Baasyir yang dianggap melanggar aturan keimigrasian, ditahan. Sedangkan mereka yang jelas terbukti melakukan korupsi dibiarkan bebas, malah memimpin sebuah institusi di negeri ini. Para mantan mujahidin Afghan, Poso dan Ambon ditangkap, sedangkan mantan antek-antek penjahat negara Orde Baru dibiarkan.
Dalam situasi inilah kita hidup. Dalam suasana inilah dakwah harus berjalan. Kaum Muslimin, khususnya juru dakwah harus ekstra hati-hati. Suasana yang kita alami sekarang bukan baru pertama kali. Sebelumnya, hampir semua utusan Allah mengalami tuduhan, hujatan dan makian. Mereka dikatakan gila, provokator, tukang sihir dan berbagai cap negatif lainnya.
Menghadapi situasi ini, paling tidak ada tiga hal yang bisa dilakukan.
Pertamahadapi dengan kesadaran bahwa Allah pasti menolong hamba-Nya. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-rasul sebelum kamu, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka sampai datang pertolongan Kami kepada mereka,” (QS al-An’am: 34).
Kedua, hadapi fitnah dengan istiqamah (QS asy-Syuura: 15), berjihad dan tetap berada di jalan Allah. Dalam hujan fitnah ini, selain tuduhan dan tekanan, juru dakwah akan menghadapi godaan yang kadang menggiurkan.
Ketiga, fitnah harus dilawan dengan doa. Inilah kekuatan yang tak mungkin dikalahkan oleh sekuat apa pun musuh. Selain itu, sikap tenang dan penuh kehati-hatian akan melahirkan tindakan bijak dan arif. Inilah yang akan membuat kita bertahan dalam dakwah di tengah lebatnya hujan fitnah.
[Hepi Andi Bastoni/Hasanalbana.com]
Categories: Dakwah Islam | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Agama ; Antara Tujuan Politik dan Alat Politik

Bismillahirrahmaanirrahiim

Saya tulis artikel ini untuk menyikapi banyaknya tuduhan terhadap partai politik yang benar-benar murni berasaskan Islam yang dituduh menjual agama demi kepentingan politiknya.

Di sini kita mestinya dapat membedakan mana partai politik yang menggunakan politik sebagai alat untuk memperjuangkan agama di ranah pemerintahan, dan mana partai politik yang jelas-jelas mereka tidak berasaskan agama (bahkan anti terhadap agama) tetapi mereka menggunakan agama sebagai alat politik guna untuk memikat dan menarik banyak masa yang mayoritas beragama.

Kita harus perhatikan terlebih dahulu, jikalau parpol yang berasaskan Islam/agama menggunakan jargon dan simbol agama, maka itu adalah suatu hal yang wajar, karena mereka bertujuan untuk membumikan dan menyebarkan dakwah agama Islam sebagai agama universal rahmatan lil’alamin, yang mengurusi semua aspek kehidupan dari mulai masalah yang terkecil sampai masalah pemerintahan sekalipun.

Akantetapi bagaimana dengan parpol nasionalis dan sekuler yang menggunakan simbol dan jargon agama untuk kampanye mereka?? Bukankah ini namanya pencitraan, penjiplakan, pemalsuan,??

Dalam hal ini saya memberikan beberapa catatan ‘kemunafikan’ partai-partai nasionalis dan sekuler yang sudah menjual agama untuk kepentingan politiknya, antara lain:

1. Menunggangi AGAMA untuk tujuan politiknya, artinya agama cuma tunggangan, simbol agama cuma TOPENG, padahal biasanya anti terhadap nilai agama. Berbeda dengan partai politik yang berasaskan agama, yang menggunakan politik sebagai alat untuk berdakwah demi diterapkannya sistem yang Islami di ranah pemerintahan, bukan untuk jualan.

2. Ada partai sekuler yang anti Islam, anti UU zakat, anti UU pornografi, Anti UU Jaminan Produk Halal, kadernya suka jadi backing tempat mabuk, maksiat dan judi. Akantetapi menjelang pemilu tiba-tiba jadi Islami.

3. Tiba-tiba Cagub partai sekuler pake KERUDUNG, pake KOPIAH, padahal sebelumnya anti terhadap simbol-simbol Islam.

4. Tiba-tiba para tokoh partainya mendadak ISLAMI, pergi HAJI, Umroh, menyumbang masjid, padahal biasanya anti masjid, tiba – tiba pakai simbol Islam untuk membohongi kaum muslimin demi menarik hati kaum muslimin.

5. Tanpa rasa malu, SUDAH KALAH di pilkada gubernur KERUDUNGNYA dicopot, KOPIAH dibuang, balik lagi anti Islam. Ini namanya politisasi agama, ini namanya menjual agama.

6. ADA capres dari partai sekuler ini tiba-tiba fasih ceramah dan jadi selingan acara TV mendiskreditkan partai Islam. Ada juga wapres lain yang mendadak berpenampilan Islami sambil mengucapkan selamat Idul Fitri, itu hanya pencitraan saja, padahal dia tidak suka dengan Islam.

7. Ada juga  yang pandai mengucapkan Assalamu alaikum, Alhamdulillah, masyaAllah, Innalillah, dsb, padahal bukan beragama Islam. Saya kira ini penistaan..?

8. Untuk mendekati hati umat Islam, banyak partai-partai Nasionalis dan Sekuleris berlomba-lomba mendirikan lembaga-lembaga Islam, contoh konkretnya seperti :   PDIP membentuk Baitul Muslimin Indonesia, Demokrat membentuk Majelis Dzikir SBY. GERINDRA membentuk GEMIRA – Gerakan Muslim Indonesia Raya, LAZIRA (Lembaga Amil Zakat Indonesia Raya), MAZIA (Majelis Zikir Indonesia Raya), Golkar juga sejak lama membentuk Majelis Dakwah Islamiah (MDI) & Satkar Ulama. Apa tujuan mereka dengan mendirikan berbagai lembaga-lembaga Islam seperti itu, padahal partai mereka tidak berlandaskan Islam sedikitpun, bahkan mereka sampai anti terhadap hukum-hukum yang berbau Islam, mereka hanya menjadikan Islam sebagai alat untuk berjualan demi mendapatkan hati masyarakat Indonesia yang moyoritas muslim.

Nah, yang  jadi masalah adalah kenapa Parpol yang berasaskan Islam selalu dicap atau dituduh menjual agama demi kepentingan politik, padahal mereka selalu berpenampilan Islami setiap harinya, Islam sudah menjadi darah dagingnya, sudah menjadi pedoman hidupnya. Mereka senantiasa berpenampilan Islami, pakai baju koko, pakai Jilbab, setiap hari sholat, senantiasa takbir, naik haji adalah kewajiban mereka. Yang mereka lakukan hanya Islamisasi politik (misalnya mengusulkan pembuatan UU zakat, UU pornografi, dan UU Jaminan Produk Halal) dengan merujuk pada ideologi mereka, Islam rahmatan lil alamin. Padahal sudah jelas yang menjual agama untuk kepentingan politik adalah mereka yang anti terhadap Islam, Islam hanya dijadikan topeng belaka untuk menutupi kebejadan mereka. Wallahu a’lam bishowaab.

Kini sudah tahu kan siapa yang menjual agama untuk kepentingan politik dan siapa menggunakan politik untuk agama??

Kini sudah tahukan siapa ‘penjual’ agama sesungguhnya??Gambar

Categories: Politik | Tag: , , , , , , , | 2 Komentar

Mesir Bergejolak : Antara Tamarrud dan Tajarrud

Gambar

Tamarrud[1] secara bahasa yang berarti pembangkangan, kata ini dinisbatkan kepada kelompok oposisi pemerintahan Mesir yang dibentuk untuk melengserkan pemerintahan yang sah di Mesir. Gerakan tamarrud ini sudah di gaungkan beberapa minggu sebelumnya, dan puncaknya hari ini yaitu hari ahad (30/06). Mereka berkumpul di kota-kota besar seperti Kairo, Alexandria, Luxor, Manufia dan kota lainnya. Di Kairo tepatnya di Tahrir  Square  mereka berkumpul  dimulai kemarin sore.

Gerakan tamarrud ini terdiri dari para birokrat zaman rezim Housni Mubarok dan keluarganya, anggota partai Housni Mubarok dan preman-preman bayaran serta kaum kristen koptik. Sejak sore kemarin banyak sekali kejanggalan-kejanggalan yang dilakukan mereka pada demonstrasi kali ini, mulai dari percampuran pemuda dan pemudi, mabuk-mabukan, pelecehan kaum wanita, sampai anarkisme. Terbukti dari hari-hari sebelumnya sudah banyak korban jiwa yang berjatuhan akibat ulah mereka. Para demonstran kelompok tamarrud ini mendapatkan 1000 EGP (sama dengan 1,5 juta rupiah) bagi preman, dan 500 EGP (sama dengan 800 ribu rupiah) bagi orang yang ikut meramaikan saja. Salah satu contoh sisi anarkisme gerakan ini, mereka berani  melakukan pemerkosaan massal  dengan formasi lingkaran neraka, na’udzubillahi min dzalik, kemudian membakar kantor cabang Ikhwanul Muslimin dan cabang partai FJP (Freedom And Justice Party) atau sering disebut Partai Kebebasan dan Keadilan, salah satu partai bentukan Ikhwanul Muslimin. Aksi anarkisme ini terjadi di berbagai kota seperti Alexandria, Port Said, Bani Suef, Manufia dan tempat lainnya. Sebagaimana berita yang di lansir tadi malam, 3 orang korban meninggal dan 200 orang lebih yang terluka akibat ulah anarkisme gerakan tamarrud tersebut.

Gerakan tamarrud ini dibentuk oleh sekelompok orang yang tidak suka dengan kepemimpinan Presiden Moursi. Mereka menilai tidak ada perubahan yang signifikan pada masa kepemimpinan Presiden Moursi, sampai akhirnya mereka menginginkan Presiden Moursi dilengserkan dari kepemimpinannya, dan mereka menginginkan PILPRES segera diadakan kembali.

Presiden Moursi yang pada bulan Juni ini genap satu tahun masa  kepemimpinannya di Mesir, banyak prestasi yang diraih beliau dari berbagai bidang, walaupun ada juga kekurangannya sebagaimana pengakuan beliau dalam pidato resminya tiga hari yang lalu.

Pada sudut Mesir lain, kita mendapatkan pemandangan menyejukkan, jutaan kaum Muslimin yang terdiri dari para ulama, da’i, para politisi, para wiraswastawan, dan rakyat sipil biasa berkumpul dengan niat yang satu menginginkan Mesir aman, damai dan juga menginginkan Presiden Moursi tetap menjalankan tugas kepresidenannya sampai tiga tahun ke depan. Alasan nya,  mereka melihat Presuden Moursi adalah presiden yang sah yang didukung oleh rakyat Mesir dan sah secara konstitusi. Gerakan ini disebut gerakan tajarrud[2] lawan kata dari tamarrud. Aksi damai ini dilaksanakan di Rab’ah Adawea salah satu tempat di kawasan Nasr City, mereka berkumpul sejak hari Jum’at kemarin (28/06) sampai hari ini dengan mendirikan tenda-tenda di sekitar tempat demonstrasi.

Pada aksi damai ini, selain mereka isi dengan orasi dan tausyiah, aksi ini mereka isi juga dengan shalat 5 waktu berjamaah, do’a bersama pada waktu-waktu mustajab dan qiyamullail berjamaah pada seperempat malam, membaca qunut nazilah pada setiap shalat, dan kegiatan sosial lainnya. Sampai saat ini mereka menetap di Rab’ah Adawea sambil mengumpulkan tanda tangan dari masyarakat yang menginginkan Presiden Moursi tetap menjabat. Sampai tadi malam sesuai konferensi pers ketua gerakan tajarrud Ir. Ishom Abdul Madjid menyatakan bahwa penggalangan tanda tangan masyarakat Mesir sudah mencapai lebih dari 26 juta tanda tangan.

Kita tunggu bersama apa yang akan terjadi hari ini dan hari-hari berikutnya? Semoga  Mesir  tetap pada status al-Qurannya yaitu  sebagai negeri “baladan aaminan” (negeri yang aman dan sentosa) aamiin yaa Rabbal’alamiin.

[1] Gerakan untuk melengserkan presiden Moursi, kelompok oposisi.

[2] Gerakan untuk mendukung presiden Moursi dan melanjutkan masa kepemimpinannya sampai akhir masa jabatan.

Sumber: (Dakwatuna.com dengan beberapa tambahan dan editan)

Categories: Berita Islam | Tag: , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Membangun Pribadi Bangsa dengan Pendidikan Karakter

Gambar

Finlandia, sebuah Negara Skandinavia yang terletak di kawasan Eropa bagian Utara ini, selain diakui oleh dunia sebagai Negara ternyaman dan tersehat di dunia yang dinilai melalui hasil survei yang dilakukan oleh “Legatum Institute”-sebuah organisasi independen- juga diakui oleh dunia bahwasannya Negara ini digadang-gadang sebagai Negara yang terbaik dalam sistem penerapan pendidikan terhadap masyarakatnya.

Nah, seperti apa ya bentuk sistem pendidikan terbaik di dunia itu? Apakah ada kesamaan dengan sistem pendidikan yang dimiliki oleh bangsa kita? Atau bahkan berbeda sangat jauh 180o dengan sistem yang dimiliki bangsa Indonesia. Berikut penuturan dari Syed Abdul Rahman Alsagoff seorang founder arabic school di Singapura, yang merupakan sekolah tertua yang didirikan oleh swasta di sana. Beliau mengatakan bahwa ternyata di Finlandia itu tidak ada yang namanya :

1)  Akreditasi (pemeringkatan) sekolah oleh Pemerintah, yang ada akreditasi oleh Masyarakat. Jadi masyarakat melihat langsung apakah anak mereka yang didik di sekolah tersebut menjadi semakin baik, beretika dan cerdas atau malah sebaliknya. Jadi sekolah tidak dinilai oleh satu pihak saja, yakni Pemerintah, melalui standar tunggal yang bisa saja keliru (dan jika keliru maka seluruh bangsa akan menganggung akibatnya), melainkan langsung oleh usernya yakni masyarakat. Jadi sekolah berusaha untuk menjadi yang terbaik dengan memberikan bukti langsung kepada masyarakat yang menilainya. Fungsi pemerintah lebih sebagai konselor atau konsultan pembimbing bagi sekolah dan mengembangkan sistem sekolahnya, bukan lembaga akreditasi. Juga mencatat sekolah-sekolah yang dianggap berhasil oleh masyarakat dan membantu sekolah-sekolah yang belum dianggap berhasil.

2)  Tidak ada kurikulum tunggal yang ditetapkan oleh Pemerintah pusat. Setiap sekolah diberikan kebebasan mengembangkan kurikulum sendiri sesuai dengan potensi unggul di daerahnya masing-masing. Jadi sepertinya jika sekolah itu terletak di Bali mungkin yang lebih diutamakan adalah kurikulum pengembangan budaya, seni tari, ukir, pahat, objekwisata, perhotelan dan yang sejenisnya. Jika di Kalimantan mungkin yang diutamakan tentang cara tambang dan pengolahan batuan berharga, gambut, batubara, dan budidaya hutan. Jika di Maluku mungkin perikanan dan budidaya kelautan dan yang sejenisnya. Wow !!! Pastinya akan banyak para ahli lokal yang pandai memanfaatkan potensi daerahnya.

3)  Tidak ada standar Ujian Negara (UN). Melainkan sistem pendidikan ini berbasiskan pada proses hasil pembelajaran dari hari ke hari dari masing-masing anak didik, tanpa dibandingkan melalui sistem rangking atau peringkat. Jadi tujuan pembelajaran adalah untuk menjadikan anak didik yang terbaik sesuai bidang yang diminati dan sesuai kemampuan masing-masing anak didik, bukan untuk mengejar peringkat dalam satu kelas atau satu sekolah. Karena prinsip pendidikan adalah mencerdaskan semua anak bukan untuk merangking mereka dari yang terpintar hingga yang terbodoh. Hal ini akan memicu kesenjangan sosial di lingkungan mereka sendiri.

4)  Dan yang paling mengesankan adalah tidak ada standar nasional kecukupan minimal untuk nilai masing-masing anak didik. Karena setiap anak didik memiliki kecepatan belajar yang berbeda-berbeda, juga kemampuan yang berbeda untuk bidang pelajaran yang berbeda. Yang ada justru standar nasional etika dan moral anak. Jadi setiap sekolah wajib mendidik setiap murid mereka memenuhi standar etika dan moral nasional sebagai pondasi dasar membangun bangsa yang kuat dan mapan. Jadi meskipun sekolah mereka memiliki kurikulum yang berbeda-beda dengan spesialisasi kecakapan bidang yang berbeda-beda, yang disesuaikan dengan potensi daerahnya masing-masing. Namun tetap setiap sekolah harus bisa menjamin bahwa setiap muridnya memiliki etika dan moral yang standar secara nasional. (Sumber : Channel News Asia)

Waaah…. sepertinya tidak terlalu sulit ya untuk mengikuti dan menjadi Negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Tentunya jika bangsa kita mau dan sadar akan hal tersebut.

Saudara-saudara sekalian, seandainya anak-anak kita, saudara-saudara kita, teman-teman kita bisa bersekolah dengan sistem seperti ini, sudah terbayang akan menjadi sangat luar biasa hasil dan dampaknya. Bersekolah akan menjadi hal yang lebih menarik, menyenangkan sekaligus menantang dan tidak lagi membosankan dan menekan kejiwaan bagi sang anak. Dengan adanya etika dan moral yang distandarisasi secara nasional, pastinya tidak akan ada lagi tawuran masa pelajar, Geng Nero, Geng Motor, dan yang sejenisnya di Jalanan. Sang anak akan menjadi respect pada guru dan orang tua, lebih beretika dan bermoral di sekolah, di jalan, di rumah, juga di lingkungan sekitar masyarakat. Negara aman dan nyaman, orangtua pun ikut senang.

Memang patut dicontoh oleh bangsa Indonesia yang menginginkan generasi penerus bangsanya mempunyai karakter yang kuat dalam beretika dan bermoral. Tidak hanya mengedepankan kemampuan kognitif dan intelektualitas saja, akantetapi mengedepankan juga kemampuan afektif, psikomotorik, emosional juga spiritual bagi sang anak. Dan terkadang jika hanya mengedepankan kemampuan kognitif dan intelektualitas saja, akan mengakibatkan tekanan dan beban yang berat terhadap sang anak, karena setiap anak didik tidak sama kemampuannya dalam hal tersebut, dan terkadang dengan mengedepankan hal tersebut, sang anak yang tidak mempunyai kapasitas intelektual yang tinggi akan merasa dikesampingkan, bahkan akan merasa tidak berguna di masyarakat.

Sistem pendidikan yang seperti ini, adalah sistem pendidikan yang mengedepankan kemampuan afektif, psikomotorik, emosional, dan spiritual. Yang bertujuan mendidik setiap anak agar mengedapankan akhlak, etika, moral, kesopanan, juga memperhitungkan minat dan bakat sang anak, melalui pendidikan karakter yang bertujuan mengasah dan mengoptimalkan sisi afektif dan psikomotorik sang anak didik, juga sisi emosional dan spiritualnya diperhatikan. Sehingga hasilnya, setiap anak didik mempunyai akhlak yang mulia dan mampu muncul dengan berbagai potensi dan karakter masing-masing. Juga sang anak didik tidak dituntut untuk selalu mendapat nilai yang besar terhadap suatu mata pelajaran yang tidak dikuasai dan tidak diminati oleh mereka, akan tetapi disesuaikan dengan kemampuan serta kecondongan minat dan bakat sang anak didik. Supaya kedepannya bangsa Indonesia dapat memanfaatkan potensi-potensi mereka sesuai kemampuan serta minat dan bakatnya juga, dan hal ini akan membuat sang anak tidak merasa tertekan atau bahkan terbebani.

Dengan sistem tersebut, masing-masing anak didik, guru dan orangtuanya tidak lagi stres oleh momok yang menakutkan, yang bernama Ujian Nasional (UN), karena mereka dinilai bukan dari ujian akhir, melainkan melalui proses perkembangan belajar melalui proses pengawasan dan bimbingan dari seorang guru dari hari ke hari, sekaligus mereka juga dikembangkan berdasarkan kemampuan dan kecakapan bidang masing-masing, tidak untuk di rangking dari yang terpintar sampai yang terbodoh, yang bisa berakibat sangat memalukan jika mereka termasuk 10 besar dari bawah.

Dengan adanya sistem yang mengedepankan kecakapan individual dan tidak ada lagi sistem ujian dengan standar soal dan jawaban yang sama, pastinya tidak akan terjadi lagi soal contek mencontek di kalangan pelajar. Setiap siswa akan tampil menjadi pribadi yang terbaik dan unggul pada bidang kecakapan masing-masing yang memang menjadi bakat dan keahliannya. Bukan untuk dipacu dan ditekan untuk meningkatkan nilai pada bidang yang tidak diminatinya yang tidak sesuai dengan kemampuan mereka, bahkan hal tersebut bisa menjadi salah satu kelemahanya. Dan terkadang bisa dibilang percuma dengan cara memasukan mereka ke tempat-tempat bimbingan belajar (bimbel), jika semua bidang yang dipelajari di sana tidak sesuai dengan minat dan kemampuan sang anak. Hal itu hanya membuang-buang waktu saja, bahkan bisa membuang-buang tenaga bahkan uang.

Dari hal ini penulis berpesan, seyogyanya kepada para orangtua siswa, agar menyikapi setiap anaknya dengan bijaksana, tidak mengedepankan ego masing-masing orangtua yang menginginkan sang anak menjadi seseorang yang berprofesi tertentu sesuai keinginan orang tuanya. Akantetapi di sini para orangtua dituntut agar bijak dan bisa menerima dengan kemampuan serta minat dan bakat yang dimiliki sang anak, agar sang anak tersebut dapat berkembang secara sempurna sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, tidak menuruti paksaan dari orangtuanya, yang berakibat kepada sang anak yang merasa tertekan dan terbebani dengan semua paksaan tersebut, sehingga akan berdampak pada pemberontakan dan kenakalan yang dilakukan oleh sang anak, dan hal ini akan mengakibatkan dampak buruk terhadap lingkungan dan masyarakat. (Na’udzu billahi min dzalik)

Dan penulis berharap mudah-mudahan bangsa Indonesia mampu mencontoh dan menerapkan sistem pendidikan yang diterapkan oleh bangsa Finlandia ini. Guna menyiapkan kader-kader bangsa yang beretika dan bermoral sebagai generasi penerus bangsa yang mampu menopang dan memperjuangkan Negara Indonesia ini menjadi Negara yang maju dan mapan di era global.

Categories: Pendidikan / Tarbiyyah | Tag: , , , , , , , , | 1 Komentar

Nostalgia Di Facebook

Gambar

Ternyata selain madhorot, banyak juga manfaatnya Facebook itu. Ya itu lah Facebook, salah satu social media atau biasa disebut jejaring sosial yang sangat populer akhir-akhir ini. Tak heran alasannya kenapa, karena sekarang adalah era globalisasi dunia, di mana tekhnologi dan internet menjadi daya pikat dan magnetnya penduduk bumi ini sekarang. Dan karena hampir setiap orang di muka bumi ini mempunyai akun Facebook. Dan tercatat oleh hasil salah satu lembaga survei social media yang bernama “social bakers” pada awal tahun ini, bahwa pengguna Facebook  terbanyak ke-empat di dunia adalah bangsa Indonesia, bangsa kita sendiri, dengan jumlah penggunanya mencapai 51.515.480 orang, jumlah ini hampir mencapai seperempat penduduk dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia yang berjumlah kurang lebih 200 juta jiwa. Kemudian Amerika Serikat di posisi pertama, dan setelahnya menyusul Brazil dan India di urutan ke-dua dan ke-tiga.

Selain bisa dijadikan media sosial dan interaksi antara manusia se-jagat, Facebook juga bisa dijadikan tempat empuk bagi orang-orang yang mau mempromosikan produk-produk dagangannya. Dari mulai para entrepreneur, sampai pedagang door to door ada di Facebook. Juga bisa dijadikan promosi fansclub, lembaga-lembaga pendidikan, kajian-kajian keagamaan, kajian ilmiah atau seminar-seminar kampus, sampai promosi undangan pernikahan juga ada di Facebook. Tak ketinggalan juga, Facebook bisa dijadikan sebagai sumber berita para penggunanya, dari mulai berita yang menjadi trendingtopic dunia, sampai berita yang sudah basi pun ada di Facebook.

Nah, selesai membahas Facebook, pada kesempatan ini, saya akan menuliskan cerita pendek mengenai “nostalgia di Facebook”. Ya nostalgia, yang sering diplesetkan katanya oleh sebagian orang menjadi “nostalgila”. Nostalgia merupakan suatu aktivitas atau kegiatan yang bisa mengingat kejadian-kejadian kita yang berkesan pada zaman dulu. Kita bisa melakukan nostalgia dengan berbagai cara, mulai dari reuni teman-teman sekolah misalkan, lihat-lihat diary dan album foto kita, atau kumpul bareng temem-temen dulu, dan salah satunya bisa lewat Facebook, seperti saya sekarang ini yang akan menuliskan cerita pendek mengenai “nostalgia di Facebook”. Mau tahu cerita selengkapnya, silahkan disimak ceritanya…!!!

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Pagi itu, sekitar jam 08:00 waktu Cairo, saya berniat membuka internet untuk sekedar melihat berbagai akun saya di internet, dari mulai WordPress, karena saya kebetulan sedang belajar nge-Blog dan belajar tulis-menulis di internet. Kemudian Google+, Twitter, dan yang pastinya Facebook yang hampir setiap hari saya buka. Kemudian saya melanjutkan dengan melihat-lihat berita yang lagi hangat di Indonesia, juga sekedar meng-update status dan melihat status-status teman-teman di Facebook. Sebelumnya saya tidak kepikiran untuk bernostalgia dengan masa lalu saya, akan tetapi berawal dari permintaan beberapa Facebookers untuk bergabung ke grup “Pesantren Persatuan Islam Tarogong”, yang kebetulan saya salah satu admin di grup itu, mengharuskan adanya pemberitahuan kepada saya jika ada permintaan untuk bergabung ke grup itu. Kemudian setelah itu saya langsung saja meng-approve request mereka supaya bisa gabung di grup itu. Grup “Pesantren Persatuan Islam Tarogong” ini merupakan grup Facebook pesantren saya dulu, yang menghimpun para santri maupun asatidz yang mempunyai akun Facebook.

Setelah beberapa saat kemudian, entah kenapa grup ini mengingatkan saya dengan masa lalu saya ketika “nyantri” di Pesantren Persatuan Islam Tarogong yang alamatnya terletak di Jl. Terusan Pembangunan No. 1, Kp. Rancabogo, Kel. Pataruman, Kec. Tarogong Kidul, Kab. Garut-Jawa Barat. Sangking lamanya saya sekolah di sana, sampai hapal saya alamatnya, hehe. Kemudian setelah itu saya melihat foto-foto bangunan pesantren ketika masih saya sekolah sampai sekarang. Setelah diperhatikan, banyak perubahan memang, karena semenjak saya sekolah di sana, pesantren yang dipimpin oleh al-Ustadz Moh. Iqbal Santoso ini, terus melakukan pembangunan dan perbaikan dari segi fasilitas-fasilitas yang menunjang untuk santrinya. Dan hasilnya, sekarang pesantren dan asramanya pun sudah luar biasa, fasilitas dan bangunannya sudah bisa disejajarkan dengan sekolah-sekolah unggulan bertaraf Nasional. Dari mulai lokal kelas yang memadai dan nyaman untuk kegiatan belajar mengajar, kantor para asatidz yang luas dan nyaman, lab. IPA, lab. Bahasa, lab. Komputer, warnet, kantin yang ditata sedemikian rapinya, halaman bai’at (upacara) yang luas, halaman parkir mobil dan motor juga luas, dan fasilitas-fasilitas yang ada di asrama tempat saya mondok dulu yang tak kalah bagusnya, yang membuat saya salut dengan Pesantren ini.

Setelah selesai melihat foto-foto pesantren, saya melihat foto-foto teman-teman saya yang tergabung di grup ini. Dan tentunya, hal ini mengingatkan saya pada masa-masa dulu dengan teman-teman saya, ketika saya masih menjadi santri. Dari mulai pertama masuk dari tingkat Tsanawiyyah dan keluar dari tingkat Mu’allimin yang setara dengan tingkat Aliyyah. Genap enam tahun saya sekolah di pesantren itu. Di sana mengingatkan saya pada masa-masa di mana saya harus berjuang dengan teman-teman saya dulu untuk mendapatkan ilmu dari para asatidz yang rela dan siap membagikan ilmunya kepada kami, juga yang mendidik kami tanpa pernah jemu dan bosan sedikit pun menghadapi kami. Masa-masa di mana saya dididik menjadi seorang anak yang berkarakter santri, tahu akan berbagai ilmu dasar keagamaan, yang membuat hidup saya berada dalam koridor agama Islam yang bisa menjadi pedoman saya untuk keselamatan dunia juga akhirat kelak. Di sana juga saya dididik menjadi seorang anak yang mandiri dan dewasa, jauh dari orangtua, saudara, rumah yang nyaman, dan harus tinggal di sebuah pondok asrama dengan berbagai peraturan yang ada. Dan hasilnya, seperti saya sekarang ini, menjadi jati diri saya sendiri, yang mempunyai cita-cita luhur yang ingin menjadi seorang ulama yang diridhoi Allah swt. barbakti bagi nusa dan bangsa, juga siap mengabdi di masyarakat kelak, yang ingin membina dan mencerdaskan masyarakat sehingga tidak buta lagi terhadap agama. Aamiin Yaa Rabb. Saya sangat bersyukur kepada Allah swt. telah disekolahkan oleh orangtua saya di pesantren ini.

Jika berbicara mengenai pesantren, saya jadi ingat waktu saya pertama masuk pondok pesantren ini. Umur saya waktu itu sekitar 12 tahun setelah saya lulus kelas enam SD. Waktu itu, saya diantar oleh keluarga saya, berangkat memakai mobil dari rumah sampai asrama tempat saya mondok dan nyantri dulu. Perasaan senang dan takut jadi satu ketika saya mulai masuk pesantren ini. Yang menyesakan hati saya, ketika saya harus ditinggal keluarga pulang, saya mulai merasa takut dan sedih ditinggal jauh orangtua saya, takut dengan kondisi saya yang amat baru, yang sangat terasa asing bagi saya. Maklum masih anak-anak pada waktu itu, masih malu-malu untuk berkenalan dengan teman-teman baru dari luar daerah, dan harus merasakan tinggal jauh dengan orangtua tercinta.

Puncaknya, siang itu ketika saya menunggu orangtua saya untuk menjemput saya pulang, karena kebetulan pada saat itu waktu liburan sekolah telah tiba, di mana para santri yang mondok di asrama biasanya dijemput oleh keluarganya untuk pulang ke rumah masing-masing, tapi ada juga kakak kelas yang pulang sendiri, yang sudah berani tanpa harus dijemput oleh orangtua mereka. Setelah lama saya menunggu, orangtua saya tak kunjung datang juga, saya pun gelisah pada waktu itu, karena tidak bisa pulang sendiri, karena saya belum berani untuk pulang sendiri dari pesantren ke rumah saya, meski jaraknya tidak cukup jauh, hanya sekitar 18 KM yang memerlukan waktu tempuh kurang lebih 45 menit dengan menggunakan angkutan umum. Tapi jiwa kekanak-kanakanku masih ada saja, saya masih takut untuk pulang sendiri karena masih belum terbiasa berpergian jauh sendiri. Pada malam sebelumnya, saya sudah beres-beres dan sudah packing barang-barang saya, tinggal siap-siap untuk berangkat pulang. Sedih perasaan saya pada waktu itu, di mana melihat teman-teman saya sudah dijemput oleh para orangtuanya, bahkan ada yang dari malam harinya mereka dijemput. “Hmm, beruntung mereka punya orangtua yang banyak waktu luang” gumamku dalam hati. Orangtuaku memang orang yang super sibuk, karena hampir setiap hari bapaku pergi ke Bandung untuk membeli barang-barang dan bahan-bahan kebutuhan percetakan bapa saya, dan ibu saya sibuk di toko melayani pembeli, dan tidak mungkin pergi sendiri untuk menjemput saya. Dan saya kebetulan tidak punya kakak, karena saya merupakan anak sulung dari kedua orangtua saya.

Setelah lama menanti dan tak kunjung datang juga, saya mulai berpikiran yang tidak-tidak pada waktu itu, sempat berpikir bahwa saya akan ditelantarkan oleh orangtua saya di pesantren ini, saya tidak akan dijemput lagi untuk pulang, akhirnya saya mulai menitikan air mata saya, jiwa cengengku yang masih kekanak-kanakan tiba-tiba muncul begitu saja, lalu saya pun menangis sesenggukan di salah satu ruangan di asrama itu, ditemani teman-teman satu ruangan yang mencoba menghibur saya, kebetulan mereka pun belum ada yang dijemput sama seperti saya, tapi salutnya mereka kuat tidak seperti saya yang masih cengeng seperti anak kecil. Akantetapi, setelah beberapa jam kemudian, akhirnya yang dinanti-nanti datang juga, ya bapaku akhirnya menjemput saya juga, saya jadi malu pada saat itu harus mengangis, langsung saja saya mengusap air mata saya supaya tidak terlihat orang di luar habis menangis. Dan bapa saya pun menyindir saya “huuh, gitu aja nangis, malu sama teman kamu yang dari luar jawa yang tidak dijemput oleh orang tuanya.” Saya pun tersipu malu mendengar sindiran bapa saya, dan akhirnya kami pun mengangkat barang-barang untuk di masukan ke mobil. Mungkin bapa saya telat menjemput saya, dikarenakan banyak pekerjaan yang harus dibereskan terlebih dahulu, melihat para pemesan sudah tidak sabar untuk mengambil barang pesanannya itu. Memang beliau sosok bapa yang saya banggakan yang selalu mendahulukan kepentingan orang lain yang memang menjadi haknya. Dan akhirnya saya pun bisa pulang juga dengan bapa saya menuju kampung halaman yang sudah lama saya rindukan suasananya itu.

Itulah salah satu kenangan saya selama nyantri di Pesantren Persatuan Islam Tarogong. Dan masih banyak lagi kenangan-kenangan yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, kalau saya sebutkan satu persatu dari awal saya masuk ke pesantren itu, sampai saya lulus dan tamat belajar dari sana, akan memerlukan waktu yang cukup lama dan mungkin bisa dijadikan sebuah nopel, mungkin. Hehe. Itulah skenario Allah pada masa lalu saya, yang hanya bisa diingat kembali sekarang ini, ketika saya sudah memasuki usia dewasa, dan hanya bisa tersenyum, tertawa sendiri, dan menitikkan air mata ketika harus mengingat masa-masa yang panjang itu yang tak akan mudah terlupakan begitu saja dalam sejarah hidup saya. Perasaan bahagia, sedih, bangga, terharu, menjadi satu ketika saya ingat masa-masa lalu saya di Pesantren itu. I love you all.

Setelah puas bernostalgia dengan pesantren saya dulu, kemudian saya berniat bernostalgia dengan diriku sendiri, saya ingin tahu masa-masa dulu saya seperti apa, sebelum saya menjadi seorang “Azhari” (sebutan bagi mahasiswa yang kuliah di univ. Al-Azhar Mesir). Ya tentunya mengingat masa lalu saya ketika kenal dengan Facebook, karena bagi saya Facebook bak buku harian yang selalu menemani saya ketika sedang merasakan suatu hal, baik itu senang maupun sedih, gembira maupun kecewa. Di sana banyak tercantum sejarah hidup saya dari mulai tulisan, curhatan, maupun foto-foto zaman dulu, walaupun tidak semuanya ada, tapi adalah sebagian yang mengingatkan saya pada masa lalu saya.

Kemudian saya langsung rollbacktimeline” atau “wall” Facebook saya menuju titik awal di mana saya pertama bergabung dengan Facebook. Timeline atau wall merupakan salah satu fitur di dalam Facebook yang memuat berbagai peristiwa yang dicantumkan oleh pengguna Facebook (Facebookers), dari mulai ia bergabung dengan Facebook sampai saat akun ia masih aktif di Facebook. Kemudian saya putar ke bawah, bak memutar lorong-lorong waktu kehidupan saya, tepatnya beberapa tahun kebelakang. Inilah uniknya Facebook, masih menyimpan kenangan-kenangan sejarah hidup saya, dari mulai saya kenal dengan yang namanya Facebook, sampai sekarang ini, dan entah sampai kapan akan terus menyimpan coretan-coretan sejarah kehidupan saya. Di sela-sela waktu saya melihat time line Facebook saya, saya mulai bergumam dalam benak saya “bagaimana dengan buku catatan amal saya yang ditulis oleh malaikat Rokib dan Atid, pasti tertulis detail dan rinci tentang amalan baik dan buruk saya, tidak ada yang telewatkan.” “Astaghfirullahal’azhiiiim” saya mengucap istighfar karena ingat dosa-dosa yang telah saya perbuat. Itulah kuasa Allah swt. Yang Maha Mengetahui dan Maha Teliti akan prilaku hamba-hamba-Nya, tidak akan ada kejadian sekecil apa pun yang tidak diketahui oleh Allah, dan amalan sekecil apa pun baik itu amalan shaleh atau buruk, tetap akan tercatat dalam buku catatan amal kita, yang akan kita pertanggung jawabkan diakhirat kelak.

Perlu diketahui oleh kita semua, bahwasannya tidak akan ada yang menandingi kekuasaan-Nya oleh siapa pun, hatta Facebook pun yang bisa merekam aktivitas manusia diseluruh dunia tidak ada apa-apanya bagi Allah, itu hanya sebagian contoh kecil alat rekaman kehidupan manusia, jauh sekali jika dibandingkan dengan catatan-catatan amal-amal kita selama hidup di dunia. Akantetapi saya tetap kagum dengan Facebook, meski tidak bisa menyaingi catatan milik Allah swt. tapi Facebook bisa digunakan sebagai alat untuk bermuhasabah diri dan berintrospeksi diri, karena jika melihat ke timeline yang dulu, kita akan ingat bagaimana kita dulu, dan apa saja yang kita telah lakukan dulu. Subhanallah, Maha suci Engkau Yaa Rabb.

Kemudian saya bergumam dalam hati, “ada-ada saja manfaat kau Facebook. Selain kamu jadi media sharing, kamu juga bisa jadi media nostalgia, hebat, bravo ‘alaik.” Dengan Facebook saya bisa melihat  status-status saya zaman dulu, foto-foto saya zaman dulu, zaman pertama Facebook mulai ada, di mana pada saat itu saya sedang menginjak fase remaja, atau masa-masa “abg” (anak baru gede), pada masa itu saya masih sangat labil, kalau anak muda zaman sekarang menyebutnya “ababil” atau abg labil, ya pokonya yang semacam itu lah. Dulu saya pernah merasakan pahit manisnya menjadi abg, pernah mengikuti mode-mode pakaian yang lagi menjadi trendsetter pada saat itu, dari mulai gaya rambut bergaya emo dan mohawk, celana pensil, kaos kecil dan ketat, dan model-model gaul lainnya yang pada saat itu sedang populer di kalangan anak remaja. Dan dulu pun saya pernah ketularan jadi so kaya anak alay gitu, yang nulis huruf-huruf aja sampe disingkat-singkat, dengan tulisan besar kecil digabung, dan menyertakan simbol atau semacamnya untuk menambah tulisan itu semakin gak bisa dibaca hehe, yang kurang lebih kaya begini tulisannya (H@i cMuaa, meudH p49i, udH pd@ maemz LuMPh, j9N LupH@ maemz y, nt4R c@kiit Lh00o), alay banget kan? Haha, Jadi geli rasanya kalau nginget-nginget masa-masa itu, hmm, ada-ada aja zamam saya abg dulu. Terus kadang-kadang saya suka ketawa-ketawa sendiri lihat kelakuan saya zaman dulu, ada-ada aja orang yang kaya saya haha, tapi alhamdulillah semenjak saya masuk jurusan ke-agamaan, sedikit-sedikit saya mulai berubah, dan banyak bergaul dengan orang-orang yang dewasa, pintar dan shaleh. Seiring bejalannya waktu dan bertambahnya usia saya, saya semakin memikirkan kehidupan saya ke depannya mau jadi apa. Saya ingin berubah menjadi diri saya sendiri, menjadi seorang anak laki-lai yang berbakti kepada orangtua saya yang selama ini telah rela mendidik saya, menafkahi saya, dan mengorbankan banyak waktunya untuk mengurusi kebutuhan saya sampai sekarang ini. Kemudian saya ingin menjadi seorang imam dan kepala rumah tangga yang baik bagi istri dan anak-anak saya kelak, dan ingin bersungguh-sungguh menjadi figur ulama sebagai panutan di masyarakat, yang mampu mencerdaskan masyarakat dan membimbing masyarakat ke arah yang diridhoi Allah swt.  Aamiin Yaa Rabbal’alamiin.

Kemudian setelah itu, dilanjutkan dengan melihat-lihat foto-foto ketika ngumpul bareng sama keluarga besar tercinta, berkumpul bersama penuh canda tawa, ketika bisa mencurahkan rasa kasih sayang di antara mereka, dengan ayah, ibu, adik, kaka sepupu, adik sepupu, om, tante, kakek, nenek, dan lain sebagainya. Memang keluarga besar orangtua dari ayah saya, selalu menyempatkan untuk berkumpul dengan saudar-saudara lainnya, mengadakan pengajian keluarga, makan bersama keluarga, ziarah ke makam orangtua kami, sampai berlibur pun kadang kami selalu bersama. Hal itu semua bertujuan untuk mempererat tali hubungan kekeluargaan di antara kami. Dari sana saya mulai tahu arti sebuah keluarga yang hubungannya terjalin kuat, dan sangat berarti besar di dalam kehidupan saya. Thanks for my big family.

Setelah selesai melihat foto-foto keluarga, saya tak sengaja melihat foto salah satu teman saya di kumpulan foto-foto Facebook saya. Rasa haru dan sedih pun muncul ketika saya ditaqdirkan lagi untuk ngobrol lewat aplikasi chat di Facebook dengan sorang teman dekat saya yang sudah lama tak berjumpa dengannya, kurang lebih hampir 5 tahun saya tak bertemu dengan dia. Cerita pertemuan saya dengannya berawal dari kepindahan saya ketika kelas 3 SD dari sekolah yang biasa-biasa saja ke salah satu sekolah yang favorit di Kecamatan saya, dikarenakan pada waktu itu orangtua saya kurang puas dengan pendidikan dan pelayanan SD saya yang dulu. Nah, di SD yang baru ini, saya mulai bertemu dengan teman dekat saya ini, dia bisa dibilang salah satu teman baik saya ketika saya kecil. Mungkin karena dilatarbelakangi ayah kami yang bersahabat pada masa mudanya, akhirnya kami pun ditaqdirkan oleh Allah untuk bersahabat sebagaimana orangtua kami dulu.

Dulu kami sangat dekat sekali, dari mulai satu sekolahan, belajar bareng, ngaji bareng, main tiap hari bareng, berpetualang bareng-bareng, hampir ke mana-mana bareng. Akan tetapi, hal itu semua berubah, setelah kami berbeda sekolah, taqdir berkata lain, akhirnya kami berpisah pada waktu itu. Awalnya kami masih satu sekolah di SD dan Tsanawiyyah yang sama, akan tetapi setelah lulus Tsanawiyyah, dia harus melanjutkan ke salah satu SMA favorit di Garut. Mungkin demi mengejar cita-citanya yang ingin menjadi dokter awalnya, sehingga dia harus fokus belajar di sekolah yang berbasis umum. Sedangkan saya, masih tetap setia dengan pesantrenku ini, karena saya menilai bahwa pesantren adalah sekolah yang sempurna bagi saya, disana diajarkan banyak ilmu-ilmu baru yang tidak bisa saya dapatkan di sekolah-sekolah umum. Pesantren ini mempunyai tujuan untuk mendidik dan mencetak para santrinya agar berkarakter ulama yang berintelektual tinggi, ber-akhluqul karimah (berakhlak mulia) dan ber-tafaqquh fiddin (faham terhadap agamanya), serta melek teknologi sehingga tidak ketinggalan dengan arus globalisasi seperti sekarang ini.

Ya, setelah kami berbeda sekolah, akhirnya kami pun jadi jarang bertemu. Terakhir kami bertemu mungkin pas reunian Tsanawiyyah, itu pun sudah sangat lama sekitar 5 tahun yang lalu. Alasannya mungkin dia sudah punya teman yang baru dan asik dengan berbagai aktivitas di SMAnya, dan mungkin juga saya yang terlalu sibuk dan asik dengan teman-teman di pesantren saya. Sehingga sedikit demi sedikit saya pun terlupa dengan dia.

Waktu pun berlalu dengan cepatnya, singkat cerita saya pun sudah kuliah tahun pertama di negeri orang, tepatnya di Mesir, salah satu negara yang terletak di benua Afrika bagian utara yang berbatasan dengan negara-negara di benua Asia, seperti Saudi Arabia, Palestina, Yaman, dan negara-negara arab lainnya. Ya tepatnya lagi saya kuliah di salah satu universitas Islam tertua dan terkenal di dunia, yaitu universitas al-Azhar. Sedangkan dia sedang melaksanakan kuliah semester 6 mengambil jurusan bahasa dan sastra Jepang, di salah satu universitas terkenal di Indonesia, yaitu Universitas Padjadjaran. Entah karena alasan apa dia memilih jurusan sastra Jepang itu, karena yang saya tahu awalnya dia bercita-cita untuk kuliah di fakultas kedokteran. Mungkin karena satu dan lain hal, dia harus kuliah di jurusan itu.

Memang berbeda dengan saya, dia sudah hampir lulus kuliah, dan sebentar lagi mau menyusun skripsinya, sedangkan saya masih dibilang “MaBa” atau mahasiswa baru di al-Azhar. Ya bisa dibilang ketinggalan dua tahun dari teman-teman saya yang satu angkatan. Hal itu dikarenakan, sebelum kuliah di al-Azhar, saya pernah mengenyam bangku kuliah di salah satu kampus bahasa Arab di Bandung (Ma’had al-Imarat), untuk memantapkan lagi kemampuan saya dalam berbahasa Arab sebelum kuliah di al-Azhar. Kuliah di al-Azhar memang sudah menjadi keinginan saya semenjak dulu, karena melihat kakak-kakak sepupu saya sudah tiga orang kuliah di al-Azhar, dan saya pun termotivasi dan berniat untuk kuliah di sana. Dan akhirnya keinginan itu terkabul. Dan sekarang saya pun resmi menjadi salah satu mahasiswa di universitas al-Azhar Cairo Mesir, setelah berbagai proses saya tempuh, dan setelah mengikuti tes untuk bersaing dengan hampir 2.500 peserta yang ingin mendaftar ke universitas ini untuk memperebutkan jatah kursi mahasiswa yang hanya disediakan beberapa ratus saja, yaitu sekitar 400 kursi orang calon mahasiswa yang akan diterima untuk kuliah di universitas ini. Dan alhamdulillah saya ada dibagian orang-orang terpilih itu. Thanks to Allah.

Saya pun merasa untuk tidak perlu berkecil hati dengan pengulangan saya di kuliah yang terpaut dua tahun jaraknya dengan teman-teman saya yang sudah hampir lulus kuliahnya. Karena bagi saya menimba ilmu itu tidak terpaku terhadap waktu maupun umur, di mana ada kesempatan, di sana lah kita harus tetap menimba ilmu sebagai kewajiban kita sebagai seorang muslim terhadap Allah swt.

Chatingku dimulai dengan temanku ini, ya perasaan haru karena sudah lama tak sempat bertemu dan ngobrol lagi seperti dulu, dan perasaan sedih karena saya merasa bersalah telah menyia-nyiakan arti sebuah persahabatan yang sudah kami jalin begitu lamanya dengan temanku ini. Saya meresa bersalah ketika saya tidak sempat untuk pamitan dengannya, untuk sekedar menyempatkan bertemu terlebih dahulu dengan teman saya sebelum keberangkatan saya ke Mesir. Saya berangkat begitu saja tanpa permisi kepadanya, seakan-akan tak ada hubungan persahabatan dengannya. Saya meresa sedih dan bersalah kepadanya waktu itu. Saya pun meminta maaf kepadanya atas kekhilafan saya ini, dan akhirnya dia pun memaafkan saya, yang membuat saya kembali senang, seperti terbebas dari perasaan bersalah, terasa plong dada saya pada waktu itu. Dan akhirnya kami pun melanjutkan percakapan kami seperti biasanya dengan suasana hangat kembali, menanyakan kabar pribadi, keluarga, kuliah dan lain sebagainya, seakan-akan kami sedang melepas rindu yang terpendam dalam jiwa kami setelah bertahun-tahun tak bertemu, kami pun sama-sama menitikan air mata ketika mengingat masa-masa kanak-kanak kami, ketika mengingat kebahagiaan kami dan kecerian kami pada waktu itu, waktu di mana kami tak akan pernah mengulanginya kembali. Kemudaian saya bergumam dalam hati “ini akan memperpanjang rekor waktu saya tidak bertemu dengannya, di mana saya tidak bisa melihat dia lagi, tidak bisa bertatap muka lagi sepeti dulu sejak kami masih kecil. Mungkin kami tidak akan bertemu entah sampai kapan, karena dia berencana untuk melanjutkan studinya ke negeri sakura Jepang,  mungkin sampai Allah swt. menaqdirkan kami untuk bertemu kembali kelak.” Hikz hikz saya pun meneteskan air mata ketika membayangkan hal itu.

Melihat rumitnya hubungan persahabatan kami, saya teringat dengan salah satu lagu nasyid yang berjudul “Cinta Berkawan” yang dibawakan oleh salah satu grup nasyid terkenal di Indonesia, yaitu Edcoustic, kurang lebih lirik lagunya seperti ini :

“Seutas tali memadu simpul tawamu duhai kawan
Simpulnya jatuh di pelupuk nurani yang tertambat cinta
Cinta berkawan bersama nikmati semusim masa

Di sela kehangatan berkawan adalah aku pandang
Satu persatu garis wajah duhai kawan penuh harapan
Andai saja terus bersama setiap masa sehati

Reff :
Suratan Tuhan kita di sini menapaki cerita bersama
Cinta berkawan karena sehati dalam kasih Illahi
Tepiskan hal yang berbeda.. agar kisahmu teramat panjang
Simpan rapi harapan berkawan selamanya..”

Dan kami pun mengakhiri obrolan kami dengan saling berjanji untuk tetap mengikat tali persahabatan di antara kami, minimalnya dengan melakukan obrolan atau sekedar sapa menyapa di internet. Kemudian kami pun saling mendo’akan agar kami sama-sama mendapat ke-ridhoan Allah swt. dalam menempuh studi kami, dan agar kami sama-sama meraih sukses dunia dan akhirat. Dan bisa dipertemukan kembali suatu saat nanti atas izin Allah swt. Aamiin Yaa Rabbal’alamiin.

The end.

Categories: Cerpen | Tag: , , , , , , | 4 Komentar

Nasehat Syaikh Nashruddin al-Albani Bagi Para Penuntut Ilmu Dan Umat Muslim

Bismillahirrahmanirrahiem

Al-Albani

Prolog

Sering kali, dalam menjalankan kehidupan ini, kita sering melakukan kekhilafan dan kealfaan yang ternyata sangat merugikan diri kita juga orang lain. Kita sering merasa paling hebat dan benar dalam melakukan segala hal, tanpa melihat di sekeliling kita, dan tanpa mendengar komentar dari orang lain. Merasa diri sudah berilmu dan bergelar tinggi, sering kali kita salah dalam mengambil langkah dan niat kita, sehingga terlena dalam keujuban, kesombongan dan mudah menilai rendah atau salah orang lain tanpa adanya klarifikasi dan pendekatan dengan baik. Dan lebih parahnya lagi, jika kita berani berpendapat dan berfatwa terhadap segala permasalahan umat  yang benar-benar kita tidak ada ilmunya terhadap hal tersebut, sehingga pedapat atau fatwa kita bisa menyesatkan , hal ini sangat lebih berbahaya dan bisa menyesatkan umat.

Semua fenomena-fenomena tersebut tentunya perlu kita renungi bersama demi menjaga kemurnian niat dalam segala gerak langkah kehidupan kita dan demi terjalinnya hubungan baik kita dengan Allah جل جلا له dan seluruh umat manusia di sekeliling kita.

Oleh karena sebab itu, dengan melihat fenomena-fenomena tersebut kerap kita rasakan dan sering kita lihat di sekeliling kita, pada kesempatan kali ini saya bermaksud untuk mengajak para penuntut ilmu dan segenap umat muslim di mana pun anda berada, untuk rehat sejenak meluangkan waktunya untuk merenungi beberapa untaian nasehat dan wasiat ulama kita tercinta Syaikh Nashruddin al-Albani رحمه الله kepada kita selaku penuntut ilmu dan segenap umat muslim di mana pun anda berada, agar kita bisa mengambil manfaat dan faedah dari apa yang disampaikan beliau sebelum wafatnya. Selamat membaca!!!

Nasihat Bagi Pemuda Islam dan Penuntut Ilmu

Pertama-tama aku menasihatimu dan diriku agar bertakwa kepada Allah جل جلا له, kemudian apa saja yang menjadi bagian atau cabang dari ketakwaan kepada Allah Tabaaraka wa Ta’ala seperti:

1. Hendaklah kamu menuntut ilmu semata-mata hanya karena ikhlas kepada Allah dengan tidak menginginkan dibalik itu balasan dan ucapan terima kasih. Tidak pula menginginkan agar menjadi pemimpin di majelis-majelis ilmu. Tujuan menuntut ilmu hanyalah untuk mencapai derajat yang Allah جل جلا له telah khususkan bagi para ulama. Dalam Firman-Nya :

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di-antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.. “(QS. Al-Mujaadilah : 11)

2. Menjauhi perkara-perkara yang dapat menggelincirkanmu, yang sebagian “Thalibul Ilmi” (para penuntut ilmu) telah terperosok dan terjatuh padanya. Di antara perkara-perkara itu :

Mereka amat cepat terkuasai oleh sifat ujub (kagum pada diri sendiri) dan terperdaya, sehingga ingin menaiki kepala mereka sendiri.

Mengeluarkan fatwa untuk dirinya dan untuk orang lain sesuai dengan apa yang tampak menurut pandangannya, tanpa meminta bantuan (dari pendapat-pendapat) para ulama Salaf pendahulu ummat ini, yang telah meninggalkan “harta warisan” berupa ilmu yang menerangi dan menyinari dunia keilmuan Islam.

Dengan warisan itu, bisa dijadikan sebagai alat bantu dalam upaya penyelesaian berbagai musibah atau ben­cana yang bertumpuk sepanjang perjalanan zaman. Sebagai­mana kita telah ikut menjalani atau merasakannya, dimana sepanjang zaman itu berada dalam kondisi yang sangat gelap gulita (penuh dengan kebodohan).

Meminta bantuan dalam berpendapat dengan berpedoman pada perkataan dan pendapat ulama salafu shalih, akan sangat membantu kita untuk menghilangkan berbagai kegelapan dan mengembalikan kita kepada sumber Islam yang murni, yaitu al-Quran dan as-Sunnah yang shahihah.

Sesuatu yang tidak tertutup bagi kalian bahwasanya aku hidup di suatu zaman yang mana aku alami padanya dua perkara yang kontradiksi dan bertolak belakang, yaitu pada zaman dimana kaum muslimin, baik para syaikh maupun para penuntut ilmu, kaum awam ataupun yang memiliki ilmu, hidup dalam jurang taqlid, bukan saja pada madzhab, bahkan lebih dari itu bertaqlid pada nenek moyang mereka.

Sedangkan kami dalam upaya menghentikan sikap tersebut, mengajak manusia kepada al-Quran dan as-Sunnah. Demikian juga yang terjadi di berbagai negeri Islam. Ada beberapa orang tertentu yang mengupayakan seperti apa yang kami upayakan, sehingga kamipun hidup bagaikan “Ghurabaa ” (orang-orang asing) yang telah digambarkan oleh Rasulullah صلي الله عليه وسلم dalam beberapa hadits beliau yang telah dimaklumi, seperti:

إِنَّ الإِسلاَمَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Sesungguhnya awal mula Islam itu sebagai suatu yang asing atau aneh, dan akan kembali asing sebagaimana permulaannya, maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing”

Dalam sebagian riwayat, Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda :

هُمْ أُنَاسٌ قَلِيْلٌ صَالِحُونَ بَيْنَ كَثِيْرٍ مَنْ يَعْصِيْهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيْعُهُمْ

“Mereka (al-Ghurabaa’) adalah orang-orang shaleh yang jumlahnya sedikit di sekeliling orang banyak, yang mendurhakai mereka lebih banyak dari yang mentaati mereka.” (HR. Ahmad).

Dalam riwayat lain beliau bersabda :

هُمُ الَّذِيْنَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّسُ مِنْ سُنَّتِي مِنْ بَعْدِي

“Mereka orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia dari Sunnah-sunnahku sepeninggalku”

Aku katakan : “Kami telah alami zaman itu, lalu kami mulai membangun sebuah pengaruh yang baik bagi dakwah yang di laku­kan oleh mereka para ghurabaa’, dengan tujuan mengadakan per­baikan di tengah barisan para pemuda mukmin. Sehingga kami jumpai bahwa para pemuda beristiqamah dalam kesungguhan di berbagai negeri muslim, giat dalam berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah صلي الله عليه وسلم tatkala mengetahui keshahihannya.”

Akan tetapi kegembiraan kami terhadap kebangkitan yang kami rasakan pada tahun-tahun terakhir tidak berlangsung lama. Kita telah dikejutkan dengan terjadinya sikap “berbalik”, dan perubahan yang dahsyat pada diri pemuda-pemuda itu, di sebagian negeri. Sikap tersebut, hampir saja memusnahkan pengaruh dan buah yang baik sebagai hasil kebangkitan ini, apa penyebabnya?. Di sinilah letak sebuah pelajaran penting, penyebabnya adalah karena mereka tertimpa oleh perasaan ujub (membanggakan diri) dan terperdaya oleh kejelasan bahwa mereka berada di atas ilmu yang shalih. Perasaan tersebut bukan saja di seputar para pemuda muslim yang terlantar, bahkan terhadap para ulama. Perasaan itu muncul tatkala merasa bahwa mereka memiliki keunggulan dengan lahirnya kebangkitan ini, atas para ulama, ahli ilmu dan para syaikh yang bertebaran diberbagai belahan dunia Islam.

Sebagaimana merekapun tidak mensyukuri nikmat Allah جل جلا له yang telah memberikan taufik dan petunjuk-Nya kepada mereka untuk mengenal ilmu yang benar beserta adab-adabnya. Mereka tertipu oleh diri mereka sendiri dan mengira bahwa sesungguhnya mereka telah berada pada status kedudukan dan posisi tertentu.

Merekapun mulai mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak matang alias mentah, tidak berdiri diatas sebuah pemahaman yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah. Maka tampaklah fatwa-fatwa itu dari pendapat-pendapat yang tidak matang, lalu mereka mengira bahwasanya itulah ilmu yang terambil dari al-Quran dan as-Sunnah, maka mereka pun tersesat dengan pendapat-pendapat itu, dan juga menyesatkan banyak orang.

Suatu hal yang tidak sama bagi kalian, akibat dari itu semua­nya muncul lah sekelompok orang (suatu jama’ah) di beberapa negeri Islam yang secara lantang mengkafirkan setiap jama’ah-jama’ah muslimin dengan filsafat-filsafat yang tidak dapat diung­kapkan secara mendalam pada kesempatan yang secepat ini, apalagi tujuan kami pada kesempatan ini hanya untuk menasehati dan mengingatkan para penuntut ilmu dan para du’at (da’i).

Oleh sebab itu, saya menasehati saudara-saudara kami ahli sunnah dan ahli hadits yang berada di setiap negeri muslim, agar bersabar dalam menuntut ilmu, dan hendaklah tidak terperdaya oleh apa yang telah mereka capai berupa ilmu yang di milikinya. Pada hakekatnya mereka hanyalah mengikuti jalan, dan tidak hanya bersandar pada pemahaman-pemahaman murni mereka atau apa yang mereka sebut dengan “ijtihad mereka”.

Saya banyak mendengar pula dari saudara-saudara kami, mereka mengucapkan kalimat itu, dengan sangat mudah dan gampang tanpa memikirkan akibatnya : “Saya berijtihad”. Atau “saya berpendapat begini” atau “saya tidak berpendapat begitu”, dan ketika anda bertanya kepada mereka; kamu berijtihad ber­dasarkan pada apa, sehingga pendapatmu begini dan begitu? Apakah kamu bersandar pada pemahaman al-Quran dan sunnah Rasulullah صلي الله عليه وسلم serta ijma’ (kesepakatan) para ulama dari kalangan Sahabat Rasulullah صلي الله عليه وسلم dan yang lainnya? Ataukah pendapatmu ini hanya hawa nafsu dan pemahaman yang pendek dalam menganalisa dan beristidlal (pengambilan dalil)?. Inilah realitanya, berpendapat berdasarkan hawa nafsu, pemahaman yang kerdil dalam meng­analisa dan beristidlal. Ini semuanya dalam keyakinanku disebab­kan karena perasaan ujub, kagum pada diri sendiri dan terperdaya.

Oleh sebab itu saya jumpai di dunia Islam sebuah fenomena (gejala) yang sangat aneh, tampak pada sebagian karya-karya tulis.

Fenomena tersebut tampak di mana seorang yang tadinya sebagai musuh hadits, menjadi seorang penulis dalam ilmu hadits supaya dikatakan bahwa dia memiliki karya dalam ilmu hadits. Padahal jika anda kembali melihat tulisannya dalam ilmu yang mulia ini, anda akan jumpai sekedar kumpulan nukilan-nukilan dari sini dan dari sana, lalu jadilah sebuah karya tersebut. Nah, apakah faktor pendorongnya (dalam melakukan hal ini) wahai anak muda? Faktor pendorongnya adalah karena ingin tampak dan muncul di permukaan. Maka benarlah orang yang berkata :

(حُبُّ الظُّهُورِ يَقْطَعُ الظُّهُورَ)

“Perasaan cinta/senang untuk tampil akan mematahkan punggung (akan berakibat buruk)”.

Sekali lagi saya menasehati saudara-saudaraku para penuntut ilmu, agar menjauhi segala perangai yang tidak Islami, seperti perasaan terperdaya oleh apa yang telah diberikan kepada mereka berupa ilmu, dan janganlah terkalahkan oleh perasaan ujub terhadap diri sendiri.

Sebagai penutup nasehat ini hendaklah mereka menasehati manusia dengan cara yang terbaik, menghindar dari penggunaan cara-cara kaku dan keras di dalam berdakwah, karena kami ber­keyakinan bahwasanya Allah جل جلا له ketika berfirman :

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah manusia kejalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik.. “. (QS. An-Nahl: 125)

Bahwa sesungguhnya Allah جل جلا له tidaklah mengatakannya kecuali kebenaran (alhaq) itu, terasa berat oleh jiwa manusia, oleh sebab itu ia cenderung menyombongkan diri untuk menerimanya, kecuali mereka yang di kehendaki oleh Allah. Maka dari itu, jika dipadukan antara beratnya kebenaran pada jiwa manusia plus cara dakwah yang keras lagi kaku, ini berarti menjadikan manusia se­makin jauh dari panggilan dakwah, sedangkan kalian telah menge­tahui sabda Nabi صلي الله عليه وسلم :

إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرُونَ “ثَلَاثًا”

“Bahwasanya di antara kalian ada orang-orang yang men­jauhkan (manusia dari agama); beliau mengucapkan tiga kali”.

Wasiat Al-Albani Untuk Segenap Kaum Muslimin

Sebagai ulama besar yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap ummat ini, Imam al-Albani رحمه الله telah meyampaikan wasiat berupa nasihat dan bimbingan yang diperuntukkan kepada kaum Muslimin di seluruh dunia. Nasehat ini disampaikan pada bulan-bulan terakhir kehidupannya di dunia yang fana ini.

Isi wasiat, sebagai berikut:

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah جل جلا له kami memuji-Nya, memohon ampunan dan pertolongan-Nya. Kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Siapa yang ditunjuki Allah جل جلا له niscaya tiada yang menyesatkannya. Dan siapa yang disesatkanNya tiada pula yang menunjukinya. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah satu-satunya, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad صلي الله عليه وسلم adalah hamba dan Rasul-Nya.

Wasiatku kepada setiap muslim di belahan bumi manapun berada, lebih khusus kepada saudara-saudara kami yang ikut ber­partisipasi bersama kami dalam penisbatan kepada dakwah yang penuh barakah ini, yaitu dakwah kepada al-Quraan dan as-Sunnah sesuai dengan manhaj Salafush Shalih.

Aku wasiatkan kepada mereka dan terutama diriku agar bertakwa kepada Allah Tabaaraka wa Ta’ala.

Kemudian agar membekali diri dengan ilmu yang berman­faat sebagaimana firman Allah:

وَاتَّقُواْ اللّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّهُ

“Dan bertakwalah kepada Allah, Allah akan mengajarimu. ” (QS. Al-Baqarah: 282).

Hendaknya mereka ketahui bahwa ilmu yang baik atau benar menurut pandangan kami tidak keluar dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang sesuai dengan manhaj dan pemahaman Salafush Shalih.

Hendaknya mereka padukan antara ilmu yang dimiliki dan pengamalannya sedapat mungkin. Dengan demikian ilmu tidak menjadi hujjah yang justru mencelakakan mereka, (يَومَ لاَيَنْفَعُ مَالٌ وَلاَبَنُونَ إٍلاَّ مَنْ أَتَي اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ) yang mana pada hari itu harta benda dan anak keturunan tidak bermanfaat kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.

Aku ingatkan, agar waspada dari segala bentuk kerjasama dan persekutuan dengan orang-orang yang dalam banyak hal telah keluar dan menyimpang dari koridor al-Quran dan as-Sunnah. Penyimpangan-penyim­pangan itu sangat banyak. Bilamana dipadukan akan identik dengan sikap khuruj (keluar) yang berarti memberontak terhadap kaum Muslimin dan jama’ah mereka.

Kami hanya perintahkan agar mereka mewujudkan sebuah komunitas seperti yang disabdakan oleh Nabi صلي الله عليه وسلم dalam sebuah hadist yang shahih:

وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

“Dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara.”1

Hendaklah kita bergaul dangan cara yang baik dan ramah dalam berdakwah mengajak orang-orang yang menyelisihi dakwah kita. Agar sesuai dengan manhaj dan pemahaman Salafush Shalih. Dan selamanya kita harus berpegang teguh pada firman Allah جل جلا له:

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Nahl: 125).

Orang yang paling berhak diperlakukan dengan cara hikmah adalah orang yang paling keras menentang kita dalam prinsip dan aqidah kita. Hal ini kita lakukan agar tidak ter­tumpu pada kita dua beban yang berat, beratnya dakwah haq yang telah dianugerahkan Allah جل جلا له kepada kita kemudian di­bebani lagi dengan jeleknya cara dakwah kita kepada Allah.

Aku berharap dari semua saudara-saudaraku yang berada di setiap negeri Islam, agar melaksanakan adab-adab yang Islami ini, semata-mata karena mengharap keridhoan Allah جل جلا له dan tidak meng­harap balasan dan tidak pula ucapan terima kasih dari manusia. Semoga apa yang saya sampaikan ini telah mencukupi. Walhamdu-lillaahi Rabbil ‘aalamin.”

Sumber: Biografi Syaikh Al-Albani Mujaddid dan Ahli Hadits Abad Ini, Oleh: Mubarrak B.M. Bamuallim Lc.

 

Categories: Kontemplasi (Renungan) | Tag: , , , , , , | 3 Komentar

Asumsi Negatif terhadap Islam

Islamo Phobia_Bismillaahirrahmaanirrahiim_

Orang-orang yang mau belajar dan mendalami ajaran Islam atau pun yang hanya meneliti ilmu ke-Islam-an (Islamologi), kebanyakan dari mereka mempunyai asumsi yang keliru terhadap Islam. Bahwasannya mereka melihat Islam secara global melalui orang-orang yang menganut Islam itu sendiri (Muslim), bahkan mereka melihat orang-orang Islam yang masih kurang ilmu ke-Islamannya atau orang Islam yang salah dalam menjalani dan memahami ajaran Islam itu sendiri, misalnya orang Islam yang yang identik dengan teroris, orang Islam yang mementingkan hak kelompok atau golongannya, bertengkar  dengan sesama muslim lainnya, tawuran, mencuri, berzina, mabuk-mabukan, mengambil hak orang dan lain sebagainya. Seolah-olah ini adalah sebagai cerminan dari agama Islam itu sendiri. Dan hasilnya, bukan ketertarikan dan kekaguman terhadap Islam, akan tetapi ia malah enggan dan berburuk sangka terhadap Islam.

Untuk menanggapi permasalahan tersebut, memang diperlukan “statement” dari orang-orang yang peduli terhadap agama Islam untuk meluruskan permasalahan dan asumsi-asumsi negatif terhadap Islam. Dan di sini penulis akan memberikan sedikit pernyataan  untuk meluruskan asumsi-asumsi negatif ini, dan hasilnya silahkan para pembaca tulisan singkat ini untuk menanggapinya dengan bijak dan sopan.

Menurut hemat saya, bahwasannya pemahaman dan asumsi tersebut sangat pelu diluruskan, melihat akan semakin merebahnya dan akan semakin meluas pemahaman tersebut dikalangan awam, sehingga akan menimbulkan dampak “Islamo Phobia” ketakutan akan ajaran ajaran Islam itu sendiri. Dalam benak mereka akan tersirat pemahaman “orang Islam itu ternyata banyak yang jadi teroris, saling bertengkar satu sama lainnya, saling membela kelompoknya, bahkan ada yang berani menuduh orang Islam sendiri dengan predikat “Kafir”. Masa iya Islam mengajarkan hal tersebut??” Oleh karena sebab itu, perlu dipahamkan kepada mereka, bahwasannya “If you want to learn about Islam, go study Islam, don’t study the Muslims!” yang artinya  “Jika kamu ingin tahu dan belajar tentang Islam, maka pelajari ajaran Islam itu seperti apa, bukan mempelajari Islam dengan melihat keadaan orang-orang Islamnya itu sendiri, yang terkadang jauh melenceng dari apa yang diajarkan oleh ajaran Islam.” Karena mengapa kita harus mempelajari langsung ajaran Islam tanpa harus menganalogikan terhadap pemeluk ajaran Islamnya? Jawabannya, karena jelas berbeda, istilah “Isam” dan “Muslim”. Islam itu agama yang sangat sempurna bahkan universal, menyentuh aspek-aspek kehidupan masyarakat. Dan orang yang mempelajarinya dengan baik dan sungguh-sungguh, ia akan menjadi Insan yang bertaqwa yang mempunyai derajat tertinggi di sisi Allah SWT. Akan tetapi seorang muslim yang mengaku bahwasannya ia ber-Islam, belum tentu ia meraih gelar “Muttaqien” atau orang yang bertaqwa dari Allah SWT, karena hal tersebut tergantung kepada sejauh mana ia memahami Islam itu sendiri, dan sejauh mana kesungguhannya dalam mengaplikasikan ajaran-ajaran Islam dalam segala bentuk aspek kehidupannya, yang terkadang ia melakukan kesalahan-kesalahan yang jelas itu menyalahi aturan ajaran Islam itu sendiri. Karena jelas manusia itu tempatnya salah dan lupa dan Islam itu agama yang sempurna. Wallahu a’lam.

Categories: Pemikiran Islam | Tag: , , , , | 2 Komentar

Pembentukan Karakter Terhadap Para Nabi dan Rasul

Subhanallah, sangat indah dan terskema dengan baik sekenario Allah Swt. terhadap pentarbiyyahan dan pembentukan kepribadian para Nabi dan Rasul-Nya. Allah sengaja menyiapkan mereka dari sejak dini hinnga beranjak dewasa sebelum diangkat menjadi Rasul dengan berbagai bentuk pentarbiyyahan yang akan membentuk kepribadian mereka menjadi berkarakter dan siap untuk terjun langsung kepada umat dengan risalah yang sangat mulia.

                     

Salah satu contohnya Nabi Musa As. Setelah beliau keluar dari negeri Mesir, beliau dibimbing oleh Allah menuju sebuah negeri yang bernama “Madyan”. Di negeri tersebut beliau dipertemukan dengan seorang Nabi yang sudah berusia lanjut yang menjadi pemimpin negeri tersebut. Dan akhirnya beliau ditaqdirkan oleh Allah Swt. untuk menjadi pekerja kepada Nabi Syu’aib As. sebagai pengembala kambing.

 

Dari sini Allah Swt. memulai pentarbiyyahan dan pembentukan karakter seorang Nabi kepada Nabi Musa As. dengan mengembala kambing-kambing Nabi Syu’aib As. Karena dari pekerjaan ini dapat menghasilkan beberapa karakter dan sifat yang dimiliki oleh seorang Nabi dan Rasul-Nya. Diantaranya adalah :

 

1. SABAR. Karena seorang pengembala dituntut untuk sabar menghadapi gembalaannya dari mulai ia mengembala pagi hari, kemudian menahan panas terik matahari pada siang harinya, sampai selesai pada sore hari dengan rasa lelah. Begitu pun dengan menjadi pemimpin umat yang akan memimpin manusia dan membimbingnya dengan penuh kesabaran.

2. TAWADHU. Karena seorang pengembala pada dasarnya adalah seorang pelayan terhadap para hewan gembalaannya. Dari mulai mengurusi makanannya, memandikannya, sampai tidur di dekatnya. Dan seorang pengembala tidak segan-segan untuk berbaur dengan kotoran dan bau yang melekat pada hewan ternak tersebut. Dan bahkan suatu saat ia akan terkena percikan kotoran atau air seninya. Dari sini tampak pengorbanan seorang Nabi dan Rasul kepada umatnya, dan akan hilang rasa kesombongan dan keangkuhan pada dirinya, dan akan senantiasa bersikap tawadhu (merendahkan hati) kepada setiap orang.

3. PEMBERANI. Karena seorang pengembala dituntut untuk selalu siap dan siaga terhadap bahaya yang akan menimpa hewan gembalaannya. Ketika bahaya hewan buas misalnya, yang datang dengan tiba-tiba kearah gerombolan hewan ternaknya, ia harus siap untuk mengusir dan menghalau bahaya hewan buas tersebut, tentunya hal ini perlu kesiapan mental dan keberanian yang sangat untuk menghadapi hewan buas yang akan memangsa hewan ternaknya. Begitu pun menjadi pemimpin umat, ia harus siap sedia melindungi umatnya dari ancaman dan bahaya yang datang dari musuh-musuhnya, dengan cara apa pun itu, yang terpenting ada mental kebaranian dan jiwa kesatria yang dimiliki oleh seorang Nabi dan Rasul, dalam menghadapi bahaya dalam berbagai situasi dan kondisi.

4. PENYAYANG. Karena seorang pengembala dituntut untuk selalu siap siaga dengan rasa kasih sayangnya terhadap hewan ternak yang ditimpa masalah, misalnya sakit dan melahirkan. Ketika hewan gembalaannya ada yang sakit, ia harus siap mengobati rasa sakit hewan tersebut, tentunya dengan penuh perhatian dan rasa kasih sayang dan jeli dalam mengatasi rasa sakit hewan tersebut. Supaya hewan tersebut dapat kembali sehat dan kembali hidup seperti biasanya. Begitu pun para pemimpin umat, ia harus memiliki rasa kasih sayang dan kepekaan terhadap permasalah yang ditimpa umatnya. Tidak dihadapi dengan sifat arogansi dan kasar. Apabila dapat melakukannya terhadap hewan ternak, begitu pun terhadap manusia, ia mampu lebih dalam memberikan rasa kasih sayangnya terhadap sesama manusia.

 

Dengan demikian, penulis bermaksud untuk mengajak kepada kita semua untuk tetap terus mendalami ayat-ayat Allah, dan tanda-tanda kebesaran-Nya yang nampak di sekitar kita dan yang Nampak di alam semesta ini. Begitu pun dalam permasalahan mencetak para pemimpin dan para penerus dakwah para Nabi dan Rasul-Nya, kita bisa mengambil pelajaran dari tulisan singkat yang telah penulis sampaikan sebelumnya. Bahwasannya Allah Swt. adalah sebaik-baik pentarbiyyah dan pendidik, terutama dalam mempersiapkan para utusan-Nya, yang akan mengemban amanat yang sangat berat namun mulia, yaitu menegakan “kalimatullah” di muka bumi ini. 

Categories: Pendidikan / Tarbiyyah | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Mendahulukan Prioritas Dalam Ber-Ormas Islam

Sudah lumrah di kehidupan kita dewasa ini, banyak dari sejumlah kelompok manusia berkecimpung di dunia organisasi, di sana mereka mempunyai tujuan yang sama untuk mendapatkan hasil yang mereka sepakati bersama. Mereka bekerja total demi terwujudnya rencana dan tujuan mereka. Seolah-olah suatu ormas itu adalah sebuah perusahaan tempat mereka bekerja, ada yang menjadi ketua umum yang mengkoordinir semua anggotanya, sekretaris umum yang membantu ketua dalam menata keperluan administrasi, bendahara yang bertugas sebagai pengatur keluar masuk keuangan, serta staf-staf yang lainnya layaknya di sebuah perusahaan. Bahkan mereka mempunyai peraturan-peraturan khusus yang menjadi patokan dan acuan kerja mereka di sebuah organisasi tersebut, misalnya Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART). Juga mereka memiliki banyak program kerja sebagai jembatan menuju visi yang dicita-citakan. Seperti itulah kegiatan dan rutinitas mereka di sebuah organisasi masyarakat pada umumnya.

Jika berbicara mengenai organisasi masyarakat, maka kita akan banyak menemui berbagai bentuk ormas (akronim dari “organisasi masyarakat”) di lingkungan sekitar kita. Bahkan ada yang berorientasi sebagai ormas politik, sosial kemasyarakatan, budaya, seni, bahkan ada yang berorientasi sebagai ormas yang bernafaskan keagamaan, seperti ormas Islam.

Salah satu bentuk ormas yang banyak masa dan anggotanya adalah ormas yang berbasis keagamaan. Contohnya saja di Indonesia, karena Indonesia terkenal dengan Negara yang kental akan kultur keagamaannya. Seperti agama Islam, bahkan agama Islam di Indonesia pernah menjadi agama yang penganutnya terbanyak di Dunia, mencapai kurang lebih 95 % dari jumlah keseluruhan penduduknya. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, persentasi penduduk yang menganut agama Islam kini semakin merosot sampai sekarang, data terakhir menunjukan sampai pada angka kurang lebih 85% dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia.

Menteri Agama RI, Suryadharma Ali mengatakan, “Dari tahun ke tahun jumlah umat Islam di Indonesia terus mengalami penurunan. Padahal di sisi lain, jumlah penduduk Indonesia terus bertambah. Semula, jumlah umat Islam di Indonesia mencapi 95 % dari seluruh jumlah rakyat Indonesia. Secara perlahan terus berkurang menjadi 92 %, turun lagi 90 %, kemudian menjadi 87 %, dan kini anjlok menjadi 85 %.” (Data terahkir tahun 2012)

Disamping merosotnya persentasi penduduk yang menganut agama Islam, ada hal lain yang menjadi keunikan bangsa kita, yaitu semakin menjamurnya berbagai ormas yang berbasis ke-Islaman. Entah karena ghiroh masyarakat yang sangat tinggi akan kemajuan agama Islam, ataukah karena faktor lain yang seakan-akan membuat umat Islam semakin terkotak-kotakan dan terbagi-bagi ke dalam berbagai warna dengan berbagai “kepentingan”.

Ormas Islam memang selalu menjadi sorotan publik di Indonesia. Baik di kancah masyarakat terkecil sampai kancah pemerintahan sekali pun. Karena keberadaannya menentukan suatu progress dinamika keagamaan masyarakat Indonesia, yang notabene penduduknya menganut agama Islam. Contohnya saja ketika ada permasalahan yang berkaitan dengan menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan, hampir semua ormas Islam ikut dan turut serta dalam sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia sebagai instansi tertinggi pemerintahan yang mengkoordinir masalah keagamaan di Indonesia.

Terlepas dari keberadaan ormas Islam tersebut di masyarakat, apabila melihat tujuan didirikannya suatu ormas Islam, memang selalu menjadi dilema tersendiri bagi para anggotanya yang berkiprah di ormas Islam tersebut. Kita ketahui barsama, pada umumnya  tujuan didirikan suatu ormas Islam itu adalah untuk memperjuangkan dan menegakan cita-cita yang mulia, yaitu agar tetap berdirinya kejayaan Islam dan tetap tegaknya syariat Islam di muka bumi ini. Akan tetapi pada kenyataannya, banyak kita temukan dan rasakan, bahwa keberadaan ormas Islam tersebut seolah-olah mereka lebih memperjuangkan ormas mereka dibanding agamanya, mereka berjuang memperebutkan anggota dan masa, dan memperjuangkan tujuan kelompoknya masing-masing.  Mereka berlomba memperjuangkan eksistensinya di kancah masyarakat, agar terpandang sebagai ormas Islam yang besar, dan diperhitungkan keberadaannya, tanpa memperhitungkan prioritas dan tujuan utama didirikannya ormas Islam tersebut. Bahkan yang sangat disayangkan, mereka ada yang sangat fanatik dengan ormasnya tersebut, samapi-sampai mereka saling menghasud antar ormas, dan menjelek-jelekan satu sama lainnya. Alhasil bukan kejayaan Islam yang mereka peroleh, akantetapi keterpurukan dan kehancuran Islam lah yang mereka dapatkan.

Sangat ironis memang, jika kita melihat kenyataan tersebut. Memang tidak bisa dipungkiri adanya hal tersebut. Akantetapi jika kita kembali kaji dan renungkan bersama, apakah kita akan hidup selamanya di dunia ini dengan memperjuangkan hegemoni keduniaan, dibandingkan dengan memperjuangkan hal yang amat penting bagi kejayaan agama kita? Tentu tidak, karena kita ketahui bersama, tugas utama kita sebagai manusia di dunia ini adalah mengabdi sebagai khalifah Allah Swt. untuk memperjuangkan agama Allah, dan juga untuk menjaga kelangsungan kehidupan makhluk hidup di muka bumi ini dengan berbagi peraturan yang Allah Swt. turunkan melalui para utusan-Nya sebagai qudwah bagi keseluruhan umat Manusia yang ada di muka bumi ini. Begitu pun Allah Swt. menyeru dalam al-Quran kepada kita semua untuk selalu berpegang teguh pada ajarannya dan menghindarkan dari perselisihan dan perpecahan umat.

Dan akhirnya, persatuan umat Islam lah yang kita nanti-nanti dan kita tunggu-tunggu, tanpa melihat dari ormas Islam mana, dan dari harakah Islam ataupun partai Islam mana. Yang terpenting kita berjuang bersama-sama menggapai satu tujuan melalui wadah tersebut demi kajayaan Islam dan demi tegaknya syari’at Islam di muka bumi ini yang merupakan prioritas utama bagi kita semua.

 

Categories: Organisasi | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Makna Dakwah Dipandang dari Berbagai Macam Segi.

Gambar

 

Bismillahirrahmanirrahiem

Sudah menjadi kewajiaban setiap muslim yang memiliki ilmu untuk menyampaikan dan menyebarluaskan ilmu tersebut kepada khalayak umum, dengan apapun itu caranya. Yang terpenting tidak sampai ia dikategorikan sebagai seorang yang menyembunyikan ilmu yang ia peroleh (kitmaanul ‘ilm). Hal ini yang kerap disebut “dakwah”, yang berarti menyampaikan sesuatu baik itu ilmu atau informasi yang berharga yang bisa merubah keadaan sosial masyarakat pada umumnya.

Jika dikaji secara bahasa, dakwah beradal dari kalimah bahasa arab yaitu “دعا – يدعو – دعوة” yang mempunyai arti permintaan, ajakan, seruan, panggilan, dan anjuran. Seperti contoh yang pada kalimat “دعوت فلان أي ناديته” yang berarti “saya memanggil seseorang atau menyeru supaya ia menghampiri saya”.[1]

Sedangkan makna kalimat dakwah sendiri didalam al-Quran mempunyai banyak makna, dari mulai penamaan seperti pada Q.S. al-Isrâ : 110, ibadah seperti pada Q.S. Maryam : 48, pertanyaan seperti pada Q.S. al-Baqarah : 186, penisbatan seperti pada Q.S. Maryam : 91, permintaaan bantuan dan pertolongan seperti pada Q.S. al-Baqarah : 23, dan yang terakhir panggilan atau seruan seperti pada Q.S. al-Ma’ârij : 17.[2]

Dengan milihat banyaknya makna yang tersebut di atas, penulis dapat menyimpulkan makna dakwah yang berputar sekitar penamaan, ibadah, pertanyaan,  penisbatan, permintaan pertolongan, ataupun panggilan dan seruan. Hal ini dilihat dari segi uslub bahasa yang ada di dalam ayat-ayat al-Quran.

Akan tetapi, jika melihat secara istilah atau terminology, kalimat dakwah sering digunakan dalam suatu hal pekerjaan yang berhubungan dua makna, berhubungan dengan hal  keagamaan, dan hal penyampaiaan. Hal ini dapat dilihat dari pemaparan arti dakwah itu sendiri dari berbagai sumber yang penulis dapatkan. Yang pertama makna dakwah ditinjau dari segi hal keagamaan, yang sering disebut dengan dakwah islamiyyah, yang mempunyai arti sebagai agama yang diridhoi Allah untuk seluruh alam semesta, dan Allah menurunkannya sebagai wahyu kepada Rasulullah Saw. dan menjaganya di dalam al-Quran al-Karim, dan menjelaskannya di dalam as-Sunnah an-Nabawiyyah.[3] Sedangkan ditinjau dari segi hal penyampaian atau seruan, mempunyai arti sebagai ilmu yang diketahui dengannya seluruh usaha yang bercabang, yang bermacam-macam, dan yang ditujukan kepada penyampaian al-Islam kepada manusia, yang terdiri dari persoalan aqidah, syari’ah, dan akhlaq. Dan oleh sebab itu maka kalimat dakwah itu sendiri adalah ilmu seperti semua ilmu lainnya, yang mempunyai kaidah-kaidah, juga mempunyai pembahasan yang berkaitan dengan pemahaman para penyeru dakwah untuk seluruh usaha yang terfokus dan tertuju kepada penyampaian al-Islam itu sendiri.[4]

Dengan kata lain penulis dapat menyimpulkan makna dakwah itu sendiri yang didapatkan dari berbagai pemaparan di atas. Yaitu suatu usaha yang sangat mulia, karena di dalamnya berhubungan denga misi Rasulullah Saw. yang ditugaskan oleh Allah Swt. untuk menyebarkan risalah Islam kepada seluruh umat manusia. Dan usaha tersebut merupakan warisan Rasulullah Saw. sepeninggalan beliau kepada umatnya yang mampu dan mumpuni menyampaikan risalah Islam tersebut. Dan orang yang melakukan usaha tersebut biasa dipanggil da’i. Dan orang yang diseru atau yang menjadi objek dakwah ialah mad’u.


[1] Lihat : Asâs al-Balâghah, karya al-Imam az-Zamakhsyari, cetakan pertama th. 1953, Dâr el-Kutub el-Mishriyyah.

[2] Lihat : Ushûl ad-Dakwah, hal. 6, penyusun dari tim dari jurusan dakwah dan wawasan ke-Islaman di fakultas ushuluddin univ. al-azhar cairo.

[3] Lihat : ad-Dakwah al-Islâmiyyah, karya Dr. Ahmad Ghalusy, hal. 12.

[4] Op.cit. hal. 16.

Categories: Dakwah Islam | Tag: | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.